Selamat membaca

semoga bermanfaat

WIDGET

Label

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followerku

BlogRoll

Blogger news

Bahagia itu nikmat, senikmat kopi dengan moka putih.

“Freedom of Writer”



 
Kesenyapan itu kami bakar, bakar dengan pena
Biarlah ia berasap, memanas, hingga hangus
Dan ia pun lari tak mengusik lagi
Kami isi ruang waktu ini dengan timbunan kertas yg berbica, bercerita
Kami tumpahkan pula tinta-tinta bermakna di dalamnya
Sudut demi sudut, batas demi batas
Dan kesenyapan itu tak bisa lagi kembali
Tinggallah pena dan kertas yang meraja, berbicara, dan bercerita

Makassar, Mei 2013.

KANJOLI




Pau lipu* pasti tahu dan kenal bangat dengan peganan yang satu ini. Jika tidak, berarti, logikanya, dia bukanlah seorang pau lipu, bukanlah seorang pau Banggai. Jika tidak, he/she must be crazy (ungkapan untuk sesuatu yang susah dipercaya). Pun jika tidak, dia pasti anak yang baru lahir 5 tahun yang lalu, dimana kue kanjoli sudah jarang ditampakkan batang hidungnya di kehidupan kita, di pasar-pasar, pada pagi atau sore hari, ketika terdengar suara anak kecil menjajakannya. Kanjoli doooi, kanjoli doooii

Ya, kanjoli. Ketika mendengar kata itu disebutkan, terbesitlah di benak kita akan gambaran sebuah, sesuatu yang berbentuk oval, warnanya sedikit kekuning-kuningan atau kecoklatan, yang tentunya bisa dimakan, apalagi ketika diikutkan dengan dabu-dabu-nya. Hmm…semua orang bisa ngiler dibuatnya. Penganan atau kue asli Banggai ini rasanya benar-benar luar biasa. Maknyosss. Jika saja Pak Bondan dan acara Wisata Kuliner sempat bertandang ke Banggai dan mencoba penganan ini pasti demikianlah katanya.

Kanjoli terbuat dari umbi singkong yang telah diparut atau dicukur hingga halus, dipisahkankan kadungan air dan saripatinya, kemudian saripati umbi singkong tersebut dikeringkan. Saripati umbi singkong (orang di daerahku biasa menyebutnya dapit) ini kemudian dibentuk bulatan-bulatan sedang, panjang dan lebarnya sekitar 6-7 cm x 3 cm, tak lupa diisikan tajabu ikan di dalamnya, dan siap digoreng hingga matang.

Singkong (orang Banggai menyebut Kasbii), sebagai bahan baku peganan kanjoli, mempunyai beberapa jenis, seperti Kasbii Pau, dan Kasbii Ndalangon. Masing-masing jenis dari singkong atau kasbii ini akan menentukan taste dan kegurihan peganan kanjoli. Kata orang, jenis Singkong Ndalangon-lah menghasilkan peganan kanjoli dengan rasa yang benar-benar maknyoss. Saya pun sudah pernah mencobanya. Rasanya memang berbeda, dan terdapat sedikit “kelembutan” dalam isi/daging peganan kanjoli.

Pada umumnya, di beberapa daerah di Banggai, kanjoli disajikan bersama dabu-dabu. Namun di beberapa daerah lainnya, seperti di daerah tempat saya berdomisili, di Kecamatan Liang, kanjoli tak disajikan dengan dabu-dabu atau sambal jenis lainnya. Tak tahu kenapa. Semenjak saya lahir dan besar disana, penganan kanjoli, yang juga menjadi penganan number wahid saya, tak pernah disajikan dengan dabu-dabu. Penjaja kanjoli pun tak ada yang mengikutsertakan dabu-dabu sebagai salah satu atribut peganan kanjoli. Saya hanya beberapa kali mencoba kanjoli ber-dabu-dabu di daerah Ipar saya di Kecamatan Banggai, dan rasanya benar-benar komplit: enak dan luar biasa maknyoss.

Berbicara tentang peganan Kanjoli, bulan lalu, kakanda sekaligus ‘bos’ saya memposting beberapa kalimat tentang kanjoli di facebook. Menurutnya, peganan kanjoli yang merupakan buatan asli nenek moyang pau lipu Banggai, sudah hampir punah, sehingga perlu adanya pelestarian peganan tersebut. Kenyataannya memang benar. Seperti yang saya sebutkan pada bagian pembuka di catatan ini, beberapa tahun terakhir ini, peganan kanjoli sudah jarang terlihat di pasar-pasar ataupun yang dijajakan oleh anak-anak di kampung-kampung.

Itulah patutnya kita menjaga dan melestarikan budaya daerah kita sendiri yang merupakan titipan nenek moyang kita. Patutnyalah kita melestarikan kue Kanjoli agar ia tak luput dan termakan zaman. Agar pula ia menjadi salah penanada ragam budaya Banggai. Suatu bangsa atau suku dikenal dan diingat berdasarkan budayanya. Sehingganya, marilah kita tetap mempertahankan eksistensi budaya Banggai dengan melestarikan peganan asli Banggai ini.

Note : * (orang asli Banggai)

Contoh Abstrak Skripsi dan Terjemahannya (Jurusan Bahasa)




SITI NI’MAH. Pengaruh Latar Terhadap Perkembangan Karakter Tokoh Utama Dalam Novel Yakuza Na Tsuki Karya Shoko Tendo.

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan karakter tokoh utama dalam novel Yakuza Na Tsuki karya Shoko Tendo, serta mengungkapkan pengaruh latar terhadap perkembangan karakter tokoh utama dalam novel Yakuza Na Tsuki karya Shoko Tendo
Pendekatan struktural digunakan sebagai alat analisis dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam novel Yakuza Na Tsuki, yaitu unsur penokohan, serta hubungannya dengan faktor lain yaitu latar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter tokoh utama yaitu Shoko dalam novel ini sangat bervariasi yaitu, tegar, penyayang, empatik, berani, keras kepala, penurut, rela berkorban dan tidak suka mengeluh. Latar dalam novel ini berkaitan erat dengan perkembangan karakter tokoh utama yaitu Shoko. Perjalanan hidup yang dialami Shoko memberikan banyak pengaruh dalam karakternya. Shoko bisa menjadi mandiri dan dewasa serta mencapai kebebasaannya dalam meraih kesuksesan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan agar setelah membaca novel Yakuza Moon karya Shoko Tendo, kita bisa memetik hikmah pentingnya sebuah keluarga, terutama dalam membangun komunikasi yang baik. Serta untuk para remaja, agar selalu berhati-hati dalam menentukan sikap serta berhati-hati dalam pergaulan dengan teman-teman, dan jangan pernah mengabaikan keberadaan keluarga dalam kehidupan.


Abstract
SITI Ni’mah. The Influence of Setting Towards The Development of Main Figure’s Character in The Novel “Yakuza Na Tsuki” by Shoko Tendo.

This research aims to describe the main figure’s character in the novel “Yakuza Na Tsuki” by Shoko Tendo and reveal the influence of setting towards the development of main figure’s character in the novel “Yakuza Na Tsuki” by Shoko Tendo.

This research uses structural approach as analytical tool in solving the problems around the story in the novel “Yakuza Na Tsuki”, such as characterization element, and its relation to another factor, namely setting.
The result of this research indicated that the main figure in the novel, Shoko, had various character, such as rigid, compassionate, emphatic, brave, stubborn, obedient, self-sacrificing, and never be dissatisfied about something. The setting of this novel is closely related to the development of the main figure’s character, Shoko. His experience in his life gave a big influence on his character. Shoko were able to be independent in his life, mature, and he could reach his freedom to success.

Through the result of this research, it is suggested that by having read the novel Yakuza Moon by Shoko Tendo, we can take a wisdom about how important a family is, especially in terms of creating a good communication within a family. As well as for teenagers, it is important to be careful in deciding what to do in life, and be good at making companionship, and also never ignore the importance of a family in life.

Contoh Abstract dalam Bahasa Inggris (Jurusan Kesehatan)





RAHMAT ABD. KARIM. The Inhibiting Factors of Exclusive Breastfeeding of Breastfeeding Mother at Dangkalan Village, Banggai District in the Year of 2013. (Consultant I, Lasanada and Consultant II, Eha Sumantri)

Exclusive Breasfeeding is very important for the child’s health and intelligence in which child is the next generation of this nation. Indonesia came out six of the 18 ASEAN countries with the lowest percentage of exclusive breastfeeding in children which ranges about 32%. The factors that cause inhibition in exclusive breastfeeding are: mother’s internal factors, namely knowledge, education, job, health status and the external factors such as family supports and birth attendants. This research objective was to find out the internal and external factors of the failure in exclusive breastfeeding of infants aged 0-6 months at Dangkalan and Tinakin Laut Village, Banggai District.
This research includes analytical survey with cross sectional approach. The population in this research were all breastfeeding mothers who have children aged 0-12 months in the Dangkalan Village which totalled 47. The research was conducted in Maret and April 2013.
Chi Square test result shows that the factors that inhibit mothers breastfed their children through exclusive breastfeeding at the Dangkalan Village are knowledge (p = 0,000), attitude (p = 0,012), family support (p = 0,001), and support for birth attendants (p = 0,029) . Therefore, the improvement of public health education, the empowerment of posyandu cadres are absolutely needed in order to create interactive communication and the need of campaign activities in socializing the exclusive breastfeeding program.

Keywords: Exclusive Breastfeeding, Internal factors, External factors.

"FAN"




Akhirnya kipas angin itu tumbang juga. Disela-sela nafas terakhirnya mungkin saja ia telah berbisik atau mengerang kesakitan ketika kekuatan terakhinya musnah, ketika ajalnya telah di ubun-ubun. Tapi aku tak mendengar sedikitpun suaranya.

Kusentuh kipas angin itu. Kugerakkan baling-balingnya. Tak mau bergerak. Nyawanya nampak telah kosong, lenyap entah kemana. Tapi aku tahu, jiwanya masih hidup. Nada-nada jiwanya masih berbunyi, masih memanggil. Aku bisa merasakannya. Mungkinkah ia hanya mati suri? Oh tidak, ia bukan manusia.

Kipas angin itu memang telah berumur. Sudah seharusnya ia tumbang. Ia juga sudah terlalu lama mengabdikan dirinya untukku, hidup bersamaku. Hidup dengan 70% bekerja setiap harinya. Kadang ia pun harus non-stop kerja, menemaniku seharian di rumah ketika matahari betul-betul naik pitam hingga ozon pun menjerit-jerit melebihi jeritan manusia. Logo di tubuh kipas angin itu pun sudah mengisyaratkannya sejak dulu, “Tiga Tahun Garansi Motor”. Kini telah empat tahun usia kipas angin itu, telah melewati batas jadwal pensiun.

Aku masih ingat ketika pertama kali aku menyapa kipas angin itu di toko kecil yang aku sambangi di sebuah pasar. Ia mugkin saja tersenyum bahagia melihat diriku bertransaksi dengan kasir di toko itu hingga ia dibungkus dalam kardusnya dan kutenteng – aku membelinya. Pun aku masih ingat ketika kekutan pertamanya ia tunjukkan padaku, ketika aku tekan tombolnya dan baling-balingnya bergerak secepat kilat. Aku hampir saja dibuat tertidur olehnya. Tapi sekarang hal itu tak mungkin terjadi lagi. Bergerak sedikit saja ia tak mau.

Dulu, warnanya masih cling, masih cantik. Hijau juga sedikit berbalut merah di kakinya. Baling-balingnya berwarna putih, tak terlihat noda sedikitpun. Tapi sekarang kulitnya sudah pucat pasi, tak terawat. Baling-baling putihnya berlumuran plak. Ia bahkan tak punya lagi tameng bundar dari kawat yang melindungi baling-balingnya – aku membukanya. Ia tak indah lagi.

Beberapa bulan terakhir ini memang aku sering memasukkan kipas angin itu ke bengkel, bengkel milikku sendiri. Ahli membongkarnya pun adalah aku sendiri, juga ilmu membongkarnya lahir dari kumpulan ide-ideku sendiri yang menjunjung tinggi trial and error. Jadi, aku mungkin saja telah melakukan malpraktek pada kipas angin itu jika memang kelumpuhannya dominan berasal dari hasil olahan bengkelku. Tapi aku tak tahu. Mudah-mudahan saja bukan, bukan aku penyebab kelumpuhannya.

Anda tahu tidak, kipas angin itu telah banyak bermandikan do’a dan harapan. Pun dengan cacian dan hinaan. Dihari-hari ketika nafasnya sudah tak beraturan dan ia lelah, aku banyak berharap ia bisa kembali semangat, menunjukkan kekuatan jiwa mudanya, dan menemaniku menegeringkan peluh-peluh yang harus aku nikmati tiap hari. Disaat-saat aku memperbaikinya, ia pula tak luput dari cacian yang aku lontarkan karena ia tak mampu lagi berdesing.

Aku tahu, kipas angin itu sudah sepantasnya dicarikan kembarannya yang baru, yang masih gesit, seperti dirinya dulu. Tapi aku masih menunggu keputusan dan waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Aku pun sebenarnya tak tega melepaskan kipas angin itu begitu saja, atau bahkan membuatkannya tempat yang indah di tempat bernaungnya barang-barang bekas dan kotoran-kotoran lain. Aku masih membutuhkannya, sekalipun ia sudah tak bernyawa. Mugkin saja keajaiban bisa membangunkannya suatu hari….

Sepenggal Kata

Menulislah, maka anda akan meraba dunia, dan membacalah maka anda akan melihat dunia...

READ

......
Template Oleh trikmudahseo