Selamat membaca
Catatan-Catatan
semoga bermanfaat

WIDGET

Label

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followerku

BlogRoll

Blogger news

Bahagia itu nikmat, senikmat kopi dengan moka putih.

Tampilkan postingan dengan label Catatan-Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan-Catatan. Tampilkan semua postingan

Some of The Best Moments in Life



 Disadur dari postingan seorang teman di facebook...



Some of the best moments in life :

Lying in bed listening to the rain outside..

Thinking about the person you love..

A long drive on calm road..

Finding money in your old jeans just when you need it..

Giggling over silly jokes..

Holding hands with a friend..

Getting a hug from someone who loves you..

The moment your eyes fill with tears after a big laugh..

surely you have any others of your own, keep them in a note, or tell me right now, hehehe :)

Depa Nasau Peddiku


Malam ini, setelah shalat magrib, tidak tahu angin apa yang datang, aku tiba-tiba kepingin memutar lagu “Depa Nasau Peddiku”, yang mungkin penyanyinya kalo gak salah Dewi Kaddi. Kuhidupkan laptopku, menunggu windows loading, menyorot folder “Music” melalui pointer mouse, dan segera kucari lagu Depa Nasau Peddiku. Aku memutarnya.

Alunan music bergenre pop-rock Malaysia itu mengalun merdu dengan volume yang tidak begitu besar, bahkan bisa dikatakan hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya di kamar kosku__aku hanya tidak ingin membuat keributan di waktu magrib menjelang isya.

Sekali lagi, aku tidak tahu alasan yang tepat mengapa aku ingin memutar lagu itu. Menghilangkan stress? Bukan, lagu-lagu penghilang stessku biasanya lagu barat. Untuk sekedar menghibur diriku? Bukan juga tuh.

Tapi sebenarnya, dibalik semua itu, lagu tersebut betul-betul membuat kenangan yang hampir tidak bisa kulupakan. Ketika malam ini kudengar, perasaanku seakan beranjak kembali ke masa silam__3 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali berada di Bis untuk perjalanan yang begitu panjang: Makassar – Luwuk. Perjalanan panjang yang melewati beberapa daerah__Makassar-Pare-pare-Palopo-Barru-Mangkutana, hingga ke daerah perbatasan (itu rutenya kalo gak salah). Dan, My God, I couldn’t even sleep in Bus. Really pathetic, isn’t it? Aku merasakan penderitaan naik Bis untuk perjalanan panjang saat itu, ditemani oleh lagu Depa Nasau Peddiku tadi yang selalu dialunkan oleh salah satu penumpang bus. Akhirnya lagu tersebut benar-benar bersemayam di long term memoriku, tertoreh bersama kisah perjalanan panjang di bis.

Lho kok mau naik Bis, mau tersisksa di Bis… Orang-orang kapitalis sepertiku memang selalu berprinsip ekonomi yang bisa dikatakan payah. Daripada lewat pesawat yang tiketnya agak mahal, mending I try to go by Bus. Aku memang kadang-kadang berfikir, daripada membuang-buang uang untuk hal yang bisa kita lakukan dengan cara lain, mending coba cara lain tersebut. Benar-benar cara yang “aneh”. Memanfaatkan sesuatu sebaik-baiknya… Hahahaha.

Back to that song, sebenarnya aku tidak tahu sama sekali arti dari lirik lagu tersebut, of course pesan dari lagu tersebut juga tidak. Tapi, aku benar-benar tertarik ketika pertama kali aku mendengarnya. Mungkin karena musiknya yang sedikit nge-rock, atau mungkin suara penyanyinya yang begitu powerful. I have no idea about that. Bisa saja soal musiknya, karena kebetulan aku baru saja melepas masa SMA, masa remaja yang penuh dunia seni dan music khususnya bagi diriku.

Berbicara tentang arti dari lagu tersebut, If I may guess (meminjam kata-katanya kak Ida), lagu tersebut terkesan begitu sedih. Terdengar dari cara penyanyinya menyanyikan lagu, intonasi dan nada yang dimainkan: sedih. Itu menurut perkiraanku. Sampai sekarang, aku bahkan belum tahu arti dari judul lagu tersebut, “Depa Nasau Peddiku”. Betul-betul, bahasanya orang. Memang perlu dipelajari. 

Aku yang sudah tinggal beberapa tahun di Kota Daeng, tidak mengerti akan bahasa Bugis, Makassar pula. Mungkin hanya beberapa kata saja yang aku kuasai dan aku tidak bisa menjamin kalau itu melebihi dari duapuluh kosakata. Poor me. Bahkan, kemarin aku sempat terlibat percakapan dengan temanku di facebook__komen-mengkomen. Di salah satu status temanku, seorang temanku membalas komenku menggunakan bahasa Bugis. Katanya, “Dentoku se’ding”. Aku jadi bingung, namun aku sempat bertanya pada salah seorang temanku yang juga orang Bugis, ia menjelaskan artinya dan aku minta bantuannya untuk membalas komen tersebut. Ia hanya berkata “ bilang saja mapaku metto”. Oh My God!  Aku sempat Tanya, gimana cara nulisnya tapi ia hanya mengucapkannya saja. Lantas akupun menuliskan kata-kata tersebut sesuai apa yang kudengar. Dan aku tulis “ma’paku metto”. Dan apa yang terjadi kemudian? Temanku malah tambah bingung dengan komenku. “Ma’paku”. Hahahahaha. Hingga akhirnya aku menghapus komen tersebut. Betul-betul bahasanya orang.

Depa nasau peddiku, lagu yang berkesan bagiku namun aku tidak mengetahui apa sebenarnya isi lagu tersebut. Begitulah sebuah lagu, kita bisa saja terkesan akan musiknya atau nadanya, penyanyinya, bisa juga terkesan akan isi pesan dari lagu tersebut. Namun bagiku, sekalipun aku tidak mengetahui arti dari lagu Depa Nasau Peddiku, namun kayaknya aku tersentuh dengan lagu tersebut. Aku berharap suatu saat aku akan tahu artinya dari lagu tersebut. Aku juga berharap bisa mempelajari bahasa Bugis dan Makassar. I hope someone will teach me.

Sebuah Catatan Kecil, Makassar, September 2012.

“Freedom of Writer”



 
Kesenyapan itu kami bakar, bakar dengan pena
Biarlah ia berasap, memanas, hingga hangus
Dan ia pun lari tak mengusik lagi
Kami isi ruang waktu ini dengan timbunan kertas yg berbica, bercerita
Kami tumpahkan pula tinta-tinta bermakna di dalamnya
Sudut demi sudut, batas demi batas
Dan kesenyapan itu tak bisa lagi kembali
Tinggallah pena dan kertas yang meraja, berbicara, dan bercerita

Makassar, Mei 2013.

KANJOLI




Pau lipu* pasti tahu dan kenal bangat dengan peganan yang satu ini. Jika tidak, berarti, logikanya, dia bukanlah seorang pau lipu, bukanlah seorang pau Banggai. Jika tidak, he/she must be crazy (ungkapan untuk sesuatu yang susah dipercaya). Pun jika tidak, dia pasti anak yang baru lahir 5 tahun yang lalu, dimana kue kanjoli sudah jarang ditampakkan batang hidungnya di kehidupan kita, di pasar-pasar, pada pagi atau sore hari, ketika terdengar suara anak kecil menjajakannya. Kanjoli doooi, kanjoli doooii…

Ya, kanjoli. Ketika mendengar kata itu disebutkan, terbesitlah di benak kita akan gambaran sebuah, sesuatu yang berbentuk oval, warnanya sedikit kekuning-kuningan atau kecoklatan, yang tentunya bisa dimakan, apalagi ketika diikutkan dengan dabu-dabu-nya. Hmm…semua orang bisa ngiler dibuatnya. Penganan atau kue asli Banggai ini rasanya benar-benar luar biasa. Maknyosss. Jika saja Pak Bondan dan acara Wisata Kuliner sempat bertandang ke Banggai dan mencoba penganan ini pasti demikianlah katanya.

Kanjoli terbuat dari umbi singkong yang telah diparut atau dicukur hingga halus, dipisahkankan kadungan air dan saripatinya, kemudian saripati umbi singkong tersebut dikeringkan. Saripati umbi singkong (orang di daerahku biasa menyebutnya dapit) ini kemudian dibentuk bulatan-bulatan sedang, panjang dan lebarnya sekitar 6-7 cm x 3 cm, tak lupa diisikan tajabu ikan di dalamnya, dan siap digoreng hingga matang.

Singkong (orang Banggai menyebut Kasbii), sebagai bahan baku peganan kanjoli, mempunyai beberapa jenis, seperti Kasbii Pau, dan Kasbii Ndalangon. Masing-masing jenis dari singkong atau kasbii ini akan menentukan taste dan kegurihan peganan kanjoli. Kata orang, jenis Singkong Ndalangon-lah menghasilkan peganan kanjoli dengan rasa yang benar-benar maknyoss. Saya pun sudah pernah mencobanya. Rasanya memang berbeda, dan terdapat sedikit “kelembutan” dalam isi/daging peganan kanjoli.

Pada umumnya, di beberapa daerah di Banggai, kanjoli disajikan bersama dabu-dabu. Namun di beberapa daerah lainnya, seperti di daerah tempat saya berdomisili, di Kecamatan Liang, kanjoli tak disajikan dengan dabu-dabu atau sambal jenis lainnya. Tak tahu kenapa. Semenjak saya lahir dan besar disana, penganan kanjoli, yang juga menjadi penganan number wahid saya, tak pernah disajikan dengan dabu-dabu. Penjaja kanjoli pun tak ada yang mengikutsertakan dabu-dabu sebagai salah satu atribut peganan kanjoli. Saya hanya beberapa kali mencoba kanjoli ber-dabu-dabu di daerah Ipar saya di Kecamatan Banggai, dan rasanya benar-benar komplit: enak dan luar biasa maknyoss.

Berbicara tentang peganan Kanjoli, bulan lalu, kakanda sekaligus ‘bos’ saya memposting beberapa kalimat tentang kanjoli di facebook. Menurutnya, peganan kanjoli yang merupakan buatan asli nenek moyang pau lipu Banggai, sudah hampir punah, sehingga perlu adanya pelestarian peganan tersebut. Kenyataannya memang benar. Seperti yang saya sebutkan pada bagian pembuka di catatan ini, beberapa tahun terakhir ini, peganan kanjoli sudah jarang terlihat di pasar-pasar ataupun yang dijajakan oleh anak-anak di kampung-kampung.

Itulah patutnya kita menjaga dan melestarikan budaya daerah kita sendiri yang merupakan titipan nenek moyang kita. Patutnyalah kita melestarikan kue Kanjoli agar ia tak luput dan termakan zaman. Agar pula ia menjadi salah penanada ragam budaya Banggai. Suatu bangsa atau suku dikenal dan diingat berdasarkan budayanya. Sehingganya, marilah kita tetap mempertahankan eksistensi budaya Banggai dengan melestarikan peganan asli Banggai ini.

Note : * (orang asli Banggai)

"FAN"




Akhirnya kipas angin itu tumbang juga. Disela-sela nafas terakhirnya mungkin saja ia telah berbisik atau mengerang kesakitan ketika kekuatan terakhinya musnah, ketika ajalnya telah di ubun-ubun. Tapi aku tak mendengar sedikitpun suaranya.

Kusentuh kipas angin itu. Kugerakkan baling-balingnya. Tak mau bergerak. Nyawanya nampak telah kosong, lenyap entah kemana. Tapi aku tahu, jiwanya masih hidup. Nada-nada jiwanya masih berbunyi, masih memanggil. Aku bisa merasakannya. Mungkinkah ia hanya mati suri? Oh tidak, ia bukan manusia.

Kipas angin itu memang telah berumur. Sudah seharusnya ia tumbang. Ia juga sudah terlalu lama mengabdikan dirinya untukku, hidup bersamaku. Hidup dengan 70% bekerja setiap harinya. Kadang ia pun harus non-stop kerja, menemaniku seharian di rumah ketika matahari betul-betul naik pitam hingga ozon pun menjerit-jerit melebihi jeritan manusia. Logo di tubuh kipas angin itu pun sudah mengisyaratkannya sejak dulu, “Tiga Tahun Garansi Motor”. Kini telah empat tahun usia kipas angin itu, telah melewati batas jadwal pensiun.

Aku masih ingat ketika pertama kali aku menyapa kipas angin itu di toko kecil yang aku sambangi di sebuah pasar. Ia mugkin saja tersenyum bahagia melihat diriku bertransaksi dengan kasir di toko itu hingga ia dibungkus dalam kardusnya dan kutenteng – aku membelinya. Pun aku masih ingat ketika kekutan pertamanya ia tunjukkan padaku, ketika aku tekan tombolnya dan baling-balingnya bergerak secepat kilat. Aku hampir saja dibuat tertidur olehnya. Tapi sekarang hal itu tak mungkin terjadi lagi. Bergerak sedikit saja ia tak mau.

Dulu, warnanya masih cling, masih cantik. Hijau juga sedikit berbalut merah di kakinya. Baling-balingnya berwarna putih, tak terlihat noda sedikitpun. Tapi sekarang kulitnya sudah pucat pasi, tak terawat. Baling-baling putihnya berlumuran plak. Ia bahkan tak punya lagi tameng bundar dari kawat yang melindungi baling-balingnya – aku membukanya. Ia tak indah lagi.

Beberapa bulan terakhir ini memang aku sering memasukkan kipas angin itu ke bengkel, bengkel milikku sendiri. Ahli membongkarnya pun adalah aku sendiri, juga ilmu membongkarnya lahir dari kumpulan ide-ideku sendiri yang menjunjung tinggi trial and error. Jadi, aku mungkin saja telah melakukan malpraktek pada kipas angin itu jika memang kelumpuhannya dominan berasal dari hasil olahan bengkelku. Tapi aku tak tahu. Mudah-mudahan saja bukan, bukan aku penyebab kelumpuhannya.

Anda tahu tidak, kipas angin itu telah banyak bermandikan do’a dan harapan. Pun dengan cacian dan hinaan. Dihari-hari ketika nafasnya sudah tak beraturan dan ia lelah, aku banyak berharap ia bisa kembali semangat, menunjukkan kekuatan jiwa mudanya, dan menemaniku menegeringkan peluh-peluh yang harus aku nikmati tiap hari. Disaat-saat aku memperbaikinya, ia pula tak luput dari cacian yang aku lontarkan karena ia tak mampu lagi berdesing.

Aku tahu, kipas angin itu sudah sepantasnya dicarikan kembarannya yang baru, yang masih gesit, seperti dirinya dulu. Tapi aku masih menunggu keputusan dan waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Aku pun sebenarnya tak tega melepaskan kipas angin itu begitu saja, atau bahkan membuatkannya tempat yang indah di tempat bernaungnya barang-barang bekas dan kotoran-kotoran lain. Aku masih membutuhkannya, sekalipun ia sudah tak bernyawa. Mugkin saja keajaiban bisa membangunkannya suatu hari….

Sepenggal Kata

Menulislah, maka anda akan meraba dunia, dan membacalah maka anda akan melihat dunia...

READ

......
Template Oleh trikmudahseo