Selamat membaca
Story
semoga bermanfaat

WIDGET

Label

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followerku

BlogRoll

Blogger news

Bahagia itu nikmat, senikmat kopi dengan moka putih.

Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Lemelu dan Cinta Tenri

"Nominasi 50 besar Cerpen Non-fiksi Lomba Tulis Nusantara 2013"


Oleh: Abdi Masbara Lumbon

Tenri menarik foto berbalut bingkai kuning keemasan yang terpajang di mejanya. Ia menatap dalam-dalam foto itu, memeluknya erat-erat…

“Ini salah satu tempat terindah di daerahku ini, Tenri.  Bebatu yang rata ini, air yang jernih dan tenang ini, adalah surga yang menyimpan misteri yang begitu indah. Mata air ini adalah mata air cinta, kebersamaan, persahabatan…Nanti akan kuceritakan padamu misteri itu, Tenri…”  
Tenri meniru kata-kata yang diucapkan Aso ketika mereka menginjakkan kaki di Mata Air Lemelu, salah satu daerah wisata di Pulau Peling di timur Sulawesi yang menyajikan jutaan keindahan alam yang memesona dan luar biasa.

Tenri memandang keluar jendela. Gadis Bugis berkulit sawo matang itu tengah mengingat halaman demi halaman memori tentang perjalanannya menjamah hampir setengah pulau Sulawesi bersama kekasihnya, Aso, seorang lelaki berdarah Banggai-Ambon yang ia temui di bangku kuliah di kampusnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka berdua sangat mencintai travelling. Itulah awal mula mereka mengukir memori-memori indah bersama – melakukan travelling, menikmati keindahan alam titipan Tuhan yang tertabur di Sulawesi.

Angin sepoi malam membelai lembut pipi Tenri. Dingin. Cuaca malam ini sedikit tidak bersahabat, langit menghitam. Tenri menarik jendela. Diluar sana bulir-bulir air hujan mulai berjatuhan. Gadis itu langsung menuju ke tempat tidur dan berbaring. Sebelum tidur, Ia kembali memutar jutaan screen dalam memorinya tentang perjalanannya dengan Aso lima tahun yang lalu.

Aso, anak seorang pedagang di Pulau Peling, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, adalah seorang anak laki-laki pencinta alam. Sangat jarang ditemui seorang lelaki yang mempunyai sifat seperti Aso. Ketika sebagian remaja seusianya sibuk memuja produk globalisasi, bermain jejaring sosial, keluyuran, Aso lebih memilih bermain dengan alam, menikmati, hingga menjaga kelestariannya. Itulah akhirnya ia mengambil jurusan geografi dengan alasannya untuk memahami alam, hingga ia nekat menolak jurusan pilihan ayahnya, Teknik Sipil. Aso banyak menghabiskan waktu luang dan liburnya untuk berwisata, mengunjungi tempat-tempat indah, terutama di daerah tempat ia berkuliah, di Sulawesi Selatan. Bersama Tenri, ia telah mengunjungi Takabonerate di Pulau Selayar yang merupakan surga laut di Sulawesi Selatan. Mereka juga telah mencicipi keindahan Pantai Tanjung Bira, yakni pantai berpasir putih bersih yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kampung halaman Tenri di Bulukumba.

Suatu waktu Aso dan Tenri juga telah menikmati keindahan pulau Samalona, sebuah pulau kecil yang dilumuri pasir putih berkilauan yang juga menyajikan keindahan biota laut yang indah. Pulau ini ditempuh sekitar setengah jam dari Pelabuhan Makassar degan menggunakan kapal kayu. Aso dan Tenri menikmati sore yang indah disana, melihat orang-orang memacu speed boat yang menderu-deru, orang-orang ber-snorkeling, adapula yang berfoto ria mengabadikan keindahan pulau tersebut. Aso mengajak Tenri menyaksikan matahari terbenam yang memerah hingga tenggelam di atas permukaan laut nun jauh disana, menghabiskan malam, dan bernyanyi-nyanyi di pantai menikmati angin mammiri* Pantai Samalona.

“Tenri, maukah kau ikut ke daerahku? Menjamah keindahan alam disana? Masih banyak surga-surga alam yang belum kau saksikan, terutama di daerahku, di penghujung timur Sulawesi.”
Tenri mengangguk, ia memandang Aso dalam-dalam. “Aku akan ikut, Aso…”

Seperti kebiasaannya sedari dulu semenjak bersama Aso, Tenri tidak pernah menolak ajakan Aso, terutama jika ajakan itu tentang perjalanan-perjalanan untuk menikmati keindahan alam dan objek-objek wisata. Mereka berdua memang klop, sama-sama mencintai dan menikmati alam.

Ketika ujian semester telah usai, liburan panjang menyapa. Tenri telah mempersiapkan diri untuk perjalanan panjangnya mengunjungi daerah Aso di kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Ia akan memasuki provinsi baru, daerah baru, yang tentunya suasananya pun baru. Tenri juga sempat memikirkan keindahan-keindahan alam baru yang akan disaksikannya disana.

Dengan bekal izin dari orang tua Tenri, mereka memulai perjalanan meninggalkan Makassar dengan menaiki bis tujuan Kabupaten Toraja. Aso sengaja memilih bis dengan trayek menuju Toraja agar ia dan Tenri bisa singgah sebentar menikmati keindahan alam dan etnis Tana Toraja, yang juga merupakan salah satu objek wisata di Sulawesi Selatan. Maklum, selama beberapa tahun berkuliah di Makassar, Aso belum pernah mengunjungi daerah Toraja. Begitu pula Tenri, sekalipun ia sudah bertahun-tahun hidup dan tinggal di Makassar, ia tak pernah mengunjungi Toraja. Di Toraja mereka mengunjungi kuburan-kuburan batu, melihat keindahan rumah-rumah Tongkonan* di Makale, juga menyaksikan alam Tana Toraja yang masih menghijau. Dari Toraja, mereka melanjutkan kembali perjalanan, melewati perbatasan Provinsi Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah. Hari kedua mereka habiskan di Kabupaten Poso dengan menikmati indahnya danau Poso, danau terbesar di Sulawesi. Di hari ketiga mereka akhirnya tiba di Luwuk, Kabupaten Banggai. Tinggal selangkah lagi Aso akan menyentuhkan kaki di kampung tercintanya di seberang Kabupaten Banggai, di Pulau Peling, Banggai Kepulauan.

Sebelum menyeberang ke Pulau Peling, Aso dan Tenri menginap semalam di Luwuk. Aso mengajak Tenri menikmati indahnya kota kecil nan indah di penghujung timur Sulawesi itu. Di kota tersebut, Tenri mulai merasakan begitu banyak perbedaan suasana yang menyelimuti hatinya. Iya menemui orang-orang yang berbahasa berbeda dari bahasanya. Namun, ia tetap menikmati perjalanan indahnya itu. Lagipula, ada Aso yang selalu bersamanya dan menjadi guide baginya.

Keesokan harinya Aso dan Tenri berangkat menuju Pulau Peling, pulau yang juga disebut sebagai salah satu “mutiara” di kawasan timur Indonesia. Dengan menggunakan kapal kayu berukuran sedang, mereka melintasi selat Peleng, selat yang memisahkan pulau Peling dan daratan Sulawesi.

Kapal kayu berukuran sedang adalah transportasi utama bagi masyarakat pulau Peling yang ingin bertandang ke kota Luwuk. Kapal ini bisa menampung dua ratus penumpang. Waktu yang butuhkan oleh transportasi laut ini adalah 5 jam untuk mencapai pelabuhan Luwuk.

Temaram lampu-lampu kota Luwuk mulai menghilang di pelupuk mata Aso dan Tenri. Kapal telah menjauh dari pelabuhan Luwuk. Rindu Aso akan kampung halamannya sedikit demi sedikit terbayar dengan sentuhan angin malam selat Peling serta bunyi riak gelombang yang sesekali menghantam pinggir tubuh kapal, mengingatkan Aso yang semasa kecil sering bermain di sekitaran pantai di kampungnya, mendayung sampan, juga ikut memancing bersama anak-anak nelayan disana. Aso merasa seperti kembali ke masa-masa itu.

“Aso,,,Aso...!”

Panggilan Tenri membuyarkan lamunannya. “Aso kenapa?” Tanya Tenri.

“Tidak kok, Aso tidak kenapa-napa. Aso hanya teringat kembali kenangan masa kecil bersama teman-teman Aso. Yuk kita istirahat, masih beberapa jam lagi kapal mencapai pulau Peling.”

Mereka berdua meninggalkan ruangan belakang kapal yang terhubung dengan udara luar kemudian menuju palka. Mesin kapal semakin menderu-deru, menciptakan musik bising yang cukup memekakkan telinga. Disana-sini terlihat sebagian penumpang tengah beristirahat di bolsak-nya masing-masing. Sebagian pula tengah bercanda dan mengobrol dengan keluarga dan teman sesama penumpang. Ada pula penumpang lain yang memilih menikmati udara dingin malam di dek atas kapal yang terhubung dengan udara luar. Kapal bernama “Valentine II” itu terus melaju.

***


“Tenri,,,Tenri,,,bangun. Kita udah sampai.”

Tenri menggosok-gosok kedua matanya, ia bangkit dan mendongakkan kepalanya ke jendela kapal. Diluar masih gelap. Ia melirik jam tangannya, pukul 02.35. Kapal kayu itu telah merapat di bibir Pelabuhan Salakan. Para buruh pelabuhan saling mendahului memasuki kapal, berharap ketiban rejeki dari barang-barang para penumpang. Begitu pula para penumpang, mereka langsung memenuhi pintu keluar kapal sehingga terlihat berdesak-desakan dan gaduh.

“Welcome to Pulau Peling, the paradise of the East.” Ucap Aso di depan Tenri.
“Welcome to my beautiful village!” Ucapnya sekali lagi, sembari mecubit kedua pipi Tenri.

Tenri hanya membalas dengan senyuman. Rasa kantuknya belum menghilang. Mereka kemudian menaiki angkutan kota untuk menuju kampung Aso, sebuah kampung di kecamatan Liang di pulau Peling tersebut.

Ketika masih di Makassar, Aso telah menyusun rencana tentang apa yang akan mereka lakukan nanti di daerahnya tersebut. Sesuai rencana, mereka akan mengunjungi Gua Pentu, gua yang terletak di kecamatan Aso. Gua tersebut adalah bekas persembunyian para penduduk pribumi ketika masa penjajahan Jepang. Di gua ini terdapat beberapa stalagmit-stalagmit indah yang berbentuk patung manusia. Menurut cerita penduduk setempat, jika kita memasuki gua ini dan memikirkan hal-hal buruk di dalamnya, maka kita akan terkena pukulan atau tinju dari salah satu patung tersebut. Destinasi mereka pada hari pertama adalah gua ini.

Mereka juga akan mengunjungi danau Tendetung, danau yang mengering ketika bulan Desember dan akan berair lagi pada bulan Maret, makam dan keraton Raja Banggai di Pulau Banggai diseberang pulau Peling, mata air Luk Panenteng yang memesona, dan suku terasing di dataran tinggi pulau Peling, yakni suku Sea-sea. Namun, ada satu tempat wisata yang ingin sekali ditunjukkan Aso kepada Tenri, tempat wisata yang menyimpan sebuah cerita dan misteri yang indah. Tempat itu adalah kawasan Air Lemelu. Air Lemelu atau dalam bahasa Banggai disebut “Paisu Lemelu” adalah sebuah mata air yang muncul di tengah-tengah lembah dan mengalir dengan tenang diantara bebatuan yang rata. Air ini sangat jernih. Di siang hari, terpaan sinar matahari memancarkan warna biru berkilau-kilauan di permukaan air tersebut. Tempat ini merupakan salah satu tempat ter-unik di Pulau Peling atau bahkan di Indonesia Timur.

Semua tempat-tempat indah inilah yang menjadi alasan mengapa Tenri bersikeras untuk ikut bersama Aso ke daerahnya. Cerita-cerita Aso telah membuatnya semakin mencintai keindahan alam dan membuat ia ingin secepatnya melihat tempat-tempat luar biasa itu. Lagipula, seperti yang dijanjikan Aso, keindahan mata air Lemelu adalah kado spesial Aso untuk Tenri dalam rangka merayakan hubungan mereka yang telah memasuki tahun ketiga.

Di hari kelima, Aso dan Tenri mengunjungi Mata Air Lemelu. Dengan ditemani dua orang sepupu Aso, mereka berkendara menuju desa Lemelu. Dari desa Lemelu, dengan berjalan kaki selama satu jam menyusuri hutan dan menuruni bukit-bukit, mereka akhirnya tiba di tempat yang dinamakan Mata Air Lemelu itu. Keletihan mereka, juga mimpi Tenri akhirnya tercapai juga. Lokasi mata air indah itu sudah dalam pijakan kaki mereka. Sekelumit senyum terpatri di kedua sudut bibir Aso, juga sedikit butiran air mata berkilau merembes di pipinya.

“Tuhan, janjiku terpenuhi sudah. Akhirnya aku dan Tenri bisa melihat salah satu keindahan alammu ini, Tuhan.” Aso membatin.

Aso menarik tangan Tenri, kmudian mengajak mendekati bibir mata air berbatu itu.

“Ini salah satu tempat terindah di daerahku ini, Tenri.  Bebatu yang rata ini, air yang jernih dan tenang ini, adalah surga yang menyimpan misteri yang begitu indah. Mata air ini adalah mata air cinta, kebersamaan, persahabatan…Nanti akan kuceritakan padamu misteri itu, Tenri…” kata Aso sembari menatap Tenri yang sejak tadi masih terkagum-kagum dengan mata air Lemelu tersebut.

“Inilah hadiahku padamu, pada hubungan kita, Tenri.” Lanjut Aso lagi.

Kedua mata Tenri seketika langsung berkilau-kilau, hidungnya sembab. Ia tak bisa menahan haru, juga bahagia. Dalam batinnya, ini adalah hadiah terindah yang pernah ia dapatkan selama hidupnya.

“Ini benar-benar indah, Aso. Terima kasih, Aso. Terima kasih, Tuhan.”

Misteri yang dimaksudkan Aso akan Air Lemelu ini adalah cerita atau nunuton (dalam bahasa Banggai) masyarakat Desa Lemelu tentang asal mula terbentuknya mata air ini. Menurut cerita, dahulu kala, hiduplah dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Kedua anak ini selalu bersama, kemanapun mereka pergi hingga benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Suatu ketika mereka pun membuat janji untuk terus bersama sehidup semati. Janji itu diirarkan pada tujuh buah daun balande*. Kedua anak itu pun akhirnya tumbuh dewasa. Akan tetapi, seiring pertambahan usia mereka, kebersamaan mereka mulai memudar. Anak perempuan yang telah menjadi seorang gadis yang cantik itu akhirnya menikah dengan lelaki lain pilihan ayahnya. Janji semasa kecil mereka telah terlupakan.

Mengetahui keadaan tersebut, si anak laki-laki bersedih hati dan kecewa. Ia kemudian bersumpah dan mengutuk kekasihnya tersebut beserta keluarganya. Dengan kuasa Tuhan, petir datang menyambar, hujan turun dengan deras disusul angin kencang yang menghancurkan rumah kekasihnya hingga hancur berkeping-keping dan hanyut bersama aliran air. Konon, bagian-bagian rumah dan perabotnya tersebut akhirnya berubah menjadi bebatuan yang sekarang terhampar diseluruh lokasi Air Lemelu.

Cerita terbentuknya Air Lemelu ini masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat di daerah Lemelu. Konon, jika cerita ini diutarakan/diceritakan di Desa Lemelu maka akan terjadi angin kencang yang muncul seketika ataupun kilat yang saling sambar-menyambar.

Mata Air Lemelu ini masih tergolong sebagai tempat wisata yang belum terlalu terjamah dan tersohor di dunia luar. Selain lokasinya yang berada di daerah terpencil, akses menuju mata air tersebut juga terbatas. Disamping itu, promosi pemerintah setempat akan tempat-tempat wisata masih sangat minim. Ketika mengunjungi Mata Air Lemelu, Aso dan Tenri hanya menjumpai beberapa orang saja yang juga datang berwisata di tempat tersebut.

“Tenri, kisah Air Lemelu ini mengajarkan kita akan hakikat cinta juga janji. Setiap orang yang berjanji, harus menjaga dengan baik janji tersebut dan tidak pernah mengingkarnya. Begitu pula dengan cinta. Seseorang yang telah diberikan cinta dan kepercayaan, seharusnya menjaganya dan tidak menghancurkannya.” Kata Aso pada Tenri di malam terakhir sebelum kepulangan Tenri ke Makassar.

“Semoga cinta, kasih sayang, dan hubungan kita ini abadi selamanya, Tenri. Kita belajar pada Air Lemelu yang selalu tenang dan mengalir terus-menerus sepanjang masa. Kita belajar pada bebatuannya yang kokoh dan tegar. Kita belajar pada alam yang senantiasa menyuguhkan kita keindahan untuk dinikmati…” Aso lanjut lagi.

“Aku juga berharap demikian, Aso. Aku sangat mencintaimu.” Tenri langsung memeluk Aso. Kedua lengannya erat-erat mengapit tubuh pemuda itu. Pundak Aso basah seketika oleh tumpahan air mata Tenri.

“Aku juga sangat mencintaimu, Tenri.”

***

Tenri menarik selimut ke dada, ia sudah ingin memejamkan mata tapi pandangannya kembali tertuju pada foto di atas meja tadi, foto sewaktu ia bersama Aso berdiri di atas batu di Mata Air Lemelu.

Segala yang terlukis dalam foto itu telah menjadi kenangan, kenangan yang benar-benar indah. Aso dan hubungan mereka berdua pun telah menjadi kenangan. Tenri sekarang tak dapat lagi bertemu dengan Aso, tak dapat berwisata lagi bersama. Gadis Bugis Bulukumba itu kini lebih sering menyendiri, berdiam di dalam kamarnya. Kesedihan telah menikam dalam-dalam hatinya. Ia telah kehilangan seorang Aso, pemuda yang telah membuat hidupnya berwarna dan lebih berarti.

Enam bulan yang lalu, Aso meninggal dunia dalam perjalanannya mendaki Gunung Tompotika, gunung yang dianggap keramat di dataran Balantak, Luwuk, Sulawesi Tengah. Sejak dahulu, selama bertahun-tahun, Gunung Tompotika belum pernah terjamah dan didaki. Hutan-hutan disekitarnya masih perawan. Sebagian hewan yang menghuni kawasan gunung tersebut masih liar. Aso bersama beberapa temannya dari Mapala Universitas Tadulako mencoba mendaki gunung tersebut tanpa menghiraukan himbauan masyarakat sekitar akan kesakralan gunung tersebut. Pantangan memang tak dapat dilanggar, ajal pun tak dapat ditolak, Aso dan salah seorang temannya mengalami kedinginan yang sangat parah. Nyawa mereka tak dapat tertolong. Mereka menghembuskan nafas terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Tompotika. Pendakian itu akhirnya dibatalkan.

“Selamat malam Aso, semoga kau tenang disana, di tempat yang jauh dan indah.” Tenri mematikan lampu di samping tempat tidurnya kemudian menutup mata.

…oo0oo…


Catatan (*) :
-          Mammiri          : berhembus (bhs. Makassar)
-          Tongkonan      : rumah adat suku Toraja, Sulawesi Selatan
-          Balande           : sejenis tumbuhan yang berpohon sedang, daunnya berukuran sedang dan
berbentuk hati, tumbuh di hampir seluruh perbukitan di Pulau Peling, Sulawesi Tengah.


Foto-foto air lemelu di desa Lemelu, Pulau Peling, Sulawesi Tengah.



 


"FAN"




Akhirnya kipas angin itu tumbang juga. Disela-sela nafas terakhirnya mungkin saja ia telah berbisik atau mengerang kesakitan ketika kekuatan terakhinya musnah, ketika ajalnya telah di ubun-ubun. Tapi aku tak mendengar sedikitpun suaranya.

Kusentuh kipas angin itu. Kugerakkan baling-balingnya. Tak mau bergerak. Nyawanya nampak telah kosong, lenyap entah kemana. Tapi aku tahu, jiwanya masih hidup. Nada-nada jiwanya masih berbunyi, masih memanggil. Aku bisa merasakannya. Mungkinkah ia hanya mati suri? Oh tidak, ia bukan manusia.

Kipas angin itu memang telah berumur. Sudah seharusnya ia tumbang. Ia juga sudah terlalu lama mengabdikan dirinya untukku, hidup bersamaku. Hidup dengan 70% bekerja setiap harinya. Kadang ia pun harus non-stop kerja, menemaniku seharian di rumah ketika matahari betul-betul naik pitam hingga ozon pun menjerit-jerit melebihi jeritan manusia. Logo di tubuh kipas angin itu pun sudah mengisyaratkannya sejak dulu, “Tiga Tahun Garansi Motor”. Kini telah empat tahun usia kipas angin itu, telah melewati batas jadwal pensiun.

Aku masih ingat ketika pertama kali aku menyapa kipas angin itu di toko kecil yang aku sambangi di sebuah pasar. Ia mugkin saja tersenyum bahagia melihat diriku bertransaksi dengan kasir di toko itu hingga ia dibungkus dalam kardusnya dan kutenteng – aku membelinya. Pun aku masih ingat ketika kekutan pertamanya ia tunjukkan padaku, ketika aku tekan tombolnya dan baling-balingnya bergerak secepat kilat. Aku hampir saja dibuat tertidur olehnya. Tapi sekarang hal itu tak mungkin terjadi lagi. Bergerak sedikit saja ia tak mau.

Dulu, warnanya masih cling, masih cantik. Hijau juga sedikit berbalut merah di kakinya. Baling-balingnya berwarna putih, tak terlihat noda sedikitpun. Tapi sekarang kulitnya sudah pucat pasi, tak terawat. Baling-baling putihnya berlumuran plak. Ia bahkan tak punya lagi tameng bundar dari kawat yang melindungi baling-balingnya – aku membukanya. Ia tak indah lagi.

Beberapa bulan terakhir ini memang aku sering memasukkan kipas angin itu ke bengkel, bengkel milikku sendiri. Ahli membongkarnya pun adalah aku sendiri, juga ilmu membongkarnya lahir dari kumpulan ide-ideku sendiri yang menjunjung tinggi trial and error. Jadi, aku mungkin saja telah melakukan malpraktek pada kipas angin itu jika memang kelumpuhannya dominan berasal dari hasil olahan bengkelku. Tapi aku tak tahu. Mudah-mudahan saja bukan, bukan aku penyebab kelumpuhannya.

Anda tahu tidak, kipas angin itu telah banyak bermandikan do’a dan harapan. Pun dengan cacian dan hinaan. Dihari-hari ketika nafasnya sudah tak beraturan dan ia lelah, aku banyak berharap ia bisa kembali semangat, menunjukkan kekuatan jiwa mudanya, dan menemaniku menegeringkan peluh-peluh yang harus aku nikmati tiap hari. Disaat-saat aku memperbaikinya, ia pula tak luput dari cacian yang aku lontarkan karena ia tak mampu lagi berdesing.

Aku tahu, kipas angin itu sudah sepantasnya dicarikan kembarannya yang baru, yang masih gesit, seperti dirinya dulu. Tapi aku masih menunggu keputusan dan waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Aku pun sebenarnya tak tega melepaskan kipas angin itu begitu saja, atau bahkan membuatkannya tempat yang indah di tempat bernaungnya barang-barang bekas dan kotoran-kotoran lain. Aku masih membutuhkannya, sekalipun ia sudah tak bernyawa. Mugkin saja keajaiban bisa membangunkannya suatu hari….

Blue Moon: “Temuilah aku disini, beberapa menit sebelum waktu shalat tiba.”





Sebuah Cerpen, Oleh: Abdi Masbara Lumbon


“…Aku sering disini, jika tak ada yang aku kerjakan di rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya disini, di Mesjid ini.…Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar. Tuh sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”


Adi sejak tadi masih mematung di balik pagar, matanya tak berkedip. Ia setengah melongo. Pandangannya tertumpah pada seseorang yang tak jauh disana, di seberang jalan dari rumahnya, di warung pak Mimin. Sesosok wanita. Ya, sejak tadi pandangan Adi seperti telah terikat, tak mampu digerakkan, tak mampu ditolehkan pada objek pandang yang lain selain dari wanita berbalut gaun biru cerah dengan jilbab yang menutupi kepala hingga ke pundaknya, wanita yang sedang mengantri bersama pelanggan lainnya di warung pak Mimin.

Adi terus mengamati. Ia seakan tersihir dibuatnya.

“Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan,,,siapa kah wanita yang serba biru itu?” Adi bergumam dalam hati. Makhluk apakah yang sepagi itu sudah menggetarkan hatinya, melumpuhkan tembok-tembok kokoh dalam jiwanya, membekukan pandangannya.

Bagaimana tidak, wanita itu, dari jauh pun sudah memancarkan pesona keanggunannya, seperti pesona ratu Cleopatra. Matanya yang indah, lebih indah dan lebih terang dari bintang kejora, hidungnya yang mancung laksana hidung bidadari-bidadari produksi Timur Tengah, pipi dan dagunya pun indah serta kulitnya putih bersih. Betul-betul Adi saat itu seperti Julius Caesar yang telah dimabuk kepayang oleh keanggunan Ratu Cleopatra, seperti pula Jaka Tarub yang dibuat melongo oleh kecantikan para Bidadari dari Kahyangan.

“Perfect. Blue Moon, siapakah namamu? ” Ia kembali bergumam.

Pesona wanita itu kian merasuk pikiranya,  mengantarnya kedalam hayalan yang begitu tinggi, hingga ia melupakan tugasnya merapikan bunga di halaman depan, yang sedari tadi dilakukannya tapi terhenti sejenak saat kemunculan wanita misterius berbalut pakaian serba biru itu. Blue Moon. Demikian ia menamakannya. Nama tersendiri yang ia sematkan pada wanita itu, untuk  pertama kalinya.

“Adi…Adiiii…apa yang telah kau kerjakan itu? Disuruh rapikan bunga eh malah hanya berdiri melongo.”

Suara itu membuyarkan lamunannya. Ia membalikkan badan. Nampak Mamanya tengah berdiri di depan pintu, dengan ekspresi yang sedikit tak berkompromi, juga kedua tangan tertancap di pinggang, laksana seorang mandor yang sedang melepaskan omelan-omelan untuk anak buahnya.

“Aaa…iya Ma’, iya, ma’af. Adi tadi hanya sekedar melihat-lihat ke jalan kok. Adi hanya istirahat sebentar. Kan capek dari tadi mangkas bunga.”

“Ya udah, lanjutkan sana.” Mamanya berkata sambil berlalu menghilang dibalik pintu.

Sepeninggal Mamanya, Adi berbalik, bermaksud melihat kembali si wanita tadi.

“Lho, kok nggak ada…udah pulang mungkin ya???” Adi melongo.

Adi buru-buru menyelesaikan tugasnya merapikan bunga, tak sabar ingin ke warung Pak Mimin dan berharap bisa menggali informasi pada Pak Mimin mengenai sosok wanita berpakaian biru tadi.

15 menit kemudian…


“Eh anak baru…Tumben mampir kesini. Adi ya namanya?” Pak Mimin menyapa Adi yang tiba-tiba mendekatinya.

“Oh Iya, aku Adi, anaknya Bu Minah.”

“Iya, Ibumu sering kesini membeli nasi kuning atau kue lainnya. Ia juga pernah bercerita tentang kamu. Katanya kamu anak rajin.” Pak Mimin bercerita, sambil terus melayani pembelinya.

“Ah, biasa aja kali Pak…”

“Pak, ngomong-ngomong, bapak kenal wanita yang berpakaian biru yang mengantri disini tadi?” Adi melanjutkan omongannya. Memasang ekspresi keingintahuan.

“Wanita yang mana Di’? Tadi kan banyak wanita juga ibu-ibu yang juga ikut ngantri. Wong bapak juga nggak perhatikan secara seksama satu per satu.”

Hari itu nihil. Adi tak mendapat keterangan apapun tentang si Blue Moon tersebut. Pak Mimin tak punya satupun informasi tentang pelanggan wanitanya yang bergaun biru cerah itu. Ia tak memperhatikannya di warungnya tadi, apalagi mengetahui seluk beluk wanita tersebut. Toh Pak Mimin baru beberapa tahun tinggal dan membangun warungnya di daerah situ yang mana pelanggannya menjamur begitu cepat. Ia tak begitu mengenali semua pelanggannya yang seabrek itu. Apalagi Adi, yang baru seminggu tinggal di rumah yang baru dibeli bapaknya di kompleks itu. They both have no clue at all.

Adi semakin penasaran dengan wanita anggun bergaun biru dan berjilbab itu.

Keesokan harinya, Adi kembali berdiri di dekat pagar di halaman depan, menunggu wanita misterius itu, pada jam yang sama pula. Sesekali ia memandang kesana dan kemari, menyusuri sudut demi sudut jalanan depan rumahnya hingga berakhir pada warung Pak Mimin. Pandangannya dominan menuju kearah sana, meyakinkan bahwa wanita yang membuat ia penasaran tersebut tak luput dari pandangannya.

Tak berselang berapa lama, wanita itu muncul, dengan warna pakaian yang masih sama: biru cerah. Sepertinya wanita itu memang menyukai warna biru. Ia kembali mengantri.

“Oh Tuhan…that woman finally comes.” Adi berbisik dalam hati, sambil tatapannya difokuskan pada satu titik, pada wanita itu. Target is locked.

Wanita itu pergi. Adi mengikutinya dari belakang.

“Neng…Nengg….” Adi memanggil.

Wanita itu tak mendengar. Ia masih terus berjalan.

“Neng….Hallooo???” Adi bersikeras memanggilnya.

Tiba-tiba wanita berbalut gaun biru itu berhenti dan membalik badannya.

“Anda memanggil saya?.......kak?” ujar wanita itu.

Ia tersenyum dan menatap Adi yang tiba-tiba langsung terhenti seketika…..dan….

Adi merasa dunia seakan lenyap, berganti dengan balutan ruang yang penuh dengan warna-warni yang berputar-putar. Seakan ada sesuatu yang menghujam keras ke hatinya, tapi ia tak merasakan sakit, yang ada hanyalah perasaan yang indah, meresap ke seluruh pori-pori jiwanya. Senyum wanita itu, senyum yang ia tak pernah saksikan sebelumnya dalam kehidupannya. Senyum yang keluar dari wanita yang kecantikannya luar biasa. Senyum yang benar-benar membuat ia mabuk kepayang.

“Neng, bolekah saya bertanya, Neng?”

“Iya, tak apa…” Wanita itu menjawab halus.

“Neng namanya siapa, tinggal dimana pula?”

“Hmm…jika ingin berkenalan, temuilah saya nanti pukul 15.00 di taman Masjid Mubarak…Tahu kan Masjid Mubarak, masjid kompleks ini?”

“Iya Neng.” jawab Adi.

Wanita itu berlalu sembari meninggalkan senyum yang teduh menemani Adi yang sedari tadi tak bergerak, seperti orang yang kena totok.

Adi tahu betul masjid itu. Satu-satunya mesjid di kompleksnya. Masjid yang mempunyai taman di belakangnya. Di tengah taman masjid itu terdapat kolam ikan serta beberapa tempat duduk disekitarnya yang digunakan orang untuk beristirahat sambil menikmati riakan air kolam juga seluruh isi taman.
                                                              ***

Dari jauh nampak wanita bergaun biru cerah itu tengah duduk di samping kolam, sesekali melepar batu ke dalam kolam, menikmati riakannya. Disampingnya terdapat beberapa buah buku, juga tasnya yang berwarna biru. Adi mendekat.

Kedatangan Adi hampir mengagetkannya.

“Assalamualaikum, Neng…”

“Waalaikum salam…Silahkan duduk, kak…” wanita itu menjawab. Ia mencoba sedikit akrab dengan menggunakan panggilan ‘kak’, kepada Adi. Tak lupa pula dibarengi dengan senyuman mautnya.

“hmm…aku mungkin terlambat sedikit…” Adi membuka pembicaraan.

“Oh tidak, kamu tak terlambat. aku yang terlalu cepat kesini. Aku memang selalu seperti ini. Selalu cepat.” Ujarnya sedikit menyalahkan diri.

“Oh ya, namaku Andi Muslimah.” Wanita itu melanjutkan.

“Aku, Adi Firmansyah. Panggil saja Adi.” Adi memperkenalkan dirinya.

Adi menjabat tangan Muslimah. Tangan wanita itu begitu dingin.

“Adi….Nama yang bagus.” Muslimah menatap Adi. Ia melanjutkan lagi…memandang kea rah kolam.

“Aku biasanya disini, di tempat ini, jika tak ada yang aku kerjakan di rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya disini, di taman dan Mesjid ini.…Hmm, ngomong-ngomong, Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar. Tuh sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”

Adi mengikuti shalat berjama’ah di Mesjid Mubarak, begitupun Muslimah. Setelah sholat, mereka melanjutkan kembali obrolan mereka. Muslimah banyak bertanya tentang Adi, tentang kepindahannya yang baru seminggu di kompleks itu. Adi tak begitu banyak mengorek tentang kehidupan Muslimah. Wanita itu benar-benar dingin di pandangan Adi. Adi selalu saja terdiam jika ingin bertanya sesuatu padanya. Adi seperti membeku.

Hari itu, hari yang benar-benar indah bagi Adi. Bertemu sekaligus berbicara dengan wanita seperti Muslimah merupakan rezeki yang tak ternilai harganya. Pesan Muslimah sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing: Jika kau masih ingin mengobrol, temui aku di tempat ini besok. Pukul 12.00.


Adi menemui Muslimah keesokan harinya. Pada jam yang sesuai dengan pesan Muslimah. Nampak Muslimah sudah lebih dahulu datang di taman itu. Seperti dirinya adanya, selalu cepat dan lebih awal. Juga tak ketinggalan warna pakaiannya yang selalu sama: biru cerah. Pun seperti biasanya, hanya lima menitan mereka mengobrol, suara adzan memanggil. Mereka shalat berjamaah. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan obrolan-obrolan mereka. Mungkin Muslimah sengaja mengatur waktu seperti demikian_bertemu dan mengobrol sesaat sebelum waktu sholat. Atau memang sudah kebiasaan Muslimah seperti itu. Adi pun kelihatan tak menyadari hal itu. Ia hanya mengikuti perintah Muslimah. Ia seperti tersihir dan mengangguk begitu saja di hadapan wanita berparas bidadari itu.
                                                               ***

Hari-hari berjalan seperti biasa. Begitu pula Adi dan Muslimah yang sering bertemu dan mengobrol pada waktu yang seperti biasa pula. Tak terasa, usia pertemuan dan obrolan-obrolan mereka sudah hampir satu bulan. Tanggal 5 tiga hari yang akan datang genaplah sudah satu bulan perjalanan obrolan mereka. Terbesit dalam pikiran Adi untuk memberikan sesuatu pada Muslimah. Sebuah hadiah, sebuah kejutan.

Beberapa hari sebelumnya Adi sempat menyatakan sesuatu pada Muslimah. Tentang perasaannya. Ya, memang sejak pertama kali melihat Muslimah, Adi sudah menyimpan perasaan cinta, hingga mereka berkenalan, dan melakukan ‘ritual-ritual’ pertemuan dan obrolan itu, rasa dalam hati Adi semakin meluap dan tak terbendung. Adi juga telah menyampaikan keinginannya melamar Muslimah, si Blue Moon-nya itu. Muslimah hanya menjawab:
“Jika kau telah mampu juga siap lahir bathin, maka temuilah aku disini, di taman mesjid ini, beberapa menit sebelum waktu shalat. Aku akan selalu disini menunggumu.”

Hari yang ditunggu-tunggu Adi pun tiba. Tanggal 5. Ia telah bersiap di rumahnya, juga dengan hadiahnya tersebut. Pukul 15.00 ia akan segera ke taman, menjumpai Muslimah.
                                                                ***

Adi tiba di taman mesjid tepat pada pukul 15.00, tak lebih, tak pula kurang semenit pun seperti yang ditunjukkan oleh arloji di tangan kirinya. Akan tetapi, wanita berpakaian biru cerah itu tak disana. Muslimah tak berada di tempat duduknya di dekat kolam. Adi sedikit lesu, tapi ia tetap bersemangat. Ditunggunya Muslimah dengan sabar. Sudah beberapa menit berlalu tapi gaun berwarna biru itu belum tampak di pelupuk matanya. Adzan pun memanggil. Ia lalu ke mesjid. Sholat berjama’ah.

Setelah sholat Ashar, Adi kembali ke taman mesjid. Tapi, Muslimah tak kunjung muncul juga. Ribuan tanya menyusup pikiran Adi, mengusik hatinya.

“Muslimah, mengapa kau tak hadir hari ini, aku punya sesuatu untukmu….Muslimah cinta kamu.” Gumam adi dalam hati.

Hari semakin sore, matahari mulai menjauhi arah timur, mulai hilang di pelupuk mata. Adi memutuskan untuk pulang.

Sepanjang malam Adi tak bisa tidur. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Muslimah. Muslimah hari itu telah menghantui pikirannya, mengguncang hati dan jiwanya. Tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. Secarik kertas yang pernah diberikan Muslimah pada saat mereka bertemu kesekian kalinya. Kertas itu berisi alamat rumah Muslimah.

Adi membuka laci meja. Mencari kertas itu. Akhirnya ia menemukannya. Kertas itu terselip di buku diarinya. Ia membukanya, membacanya: “Lorong Anggrek Biru No.5.”
                                                                ***

Siang itu Adi keluar rumah, menyusuri jalan, berbelok ke sebuah lorong, masuk lagi ke sebuah lorong berikutnya.

“Aku yakin di lorong inilah alamatnya…” gumam Adi.

Adi menyusuri lorong tersebut, yang didepannya terdapat sebuah papan bertuliskan nama lorong itu. Tak terlalu jelas tulisan tersebut karena mungkin telah termakan zaman. Tapi sekilas masih dapat terbaca: Lorong Anggrek Biru.

Lorong itu terlihat sepi. Perumahan penduduk terlihat hanya satu-satu. Masih terhitung dengan jari. Adi terus berjalan. Tiba-tiba ia terhenti pada suatu pekarangan yang agak luas, berpagar tembok. Disamping tembok itu pandangan Adi dibuat tak bergeming oleh sebuah tulisan: Anggrek Biru No.5.  Ia melihat kembali pekarangan luas itu, dilemparkanlah pandangannya dari sudut ke sudut. Ribuan batu nisan nampak disana, di pekarangan itu. Ribuan kuburan berbaris rapi disana. Adi mematung, tak bergerak, matanya sedikit terbuka lebar, mulutnya seperti terkunci rapat, tak bisa berkata-kata. Ia merinding.

“Apakah benar inilah alamat rumahmu, Muslimah?” bisik Adi dalam hati.

Diantara ribuan kuburan tersebut, ada satu kuburan yang berbeda, terlihat agak besar, dibaluti tegel berwarna biru cerah. Pandangan Adi tertuju kesana. Ia mendekati kuburan tersebut. Dilihatnya secara dekat. Pada batu nisan tertulis “Andi Muslimah, Wafat 1997”.

Adi tak kuasa membendung air matanya. Ia menangis tersedu sedan disamping kuburan bertegel biru cerah itu. Pandangannya memburam, hidupnya terasa hampa. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Dibukanya kotak itu, nampak cincin bermata saphir terselip rapi di dasar kotak, berkilau-kilau diterpa sinar matahari. Ia menaruh cincin itu di depan nisan. Adi beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Ia tak kuat.

Semenjak kejadian tersebut Adi sering ke Masjid Mubarak, sholat berjama’ah, lalu menyempatkan diri mengunjungi taman di belakang Masjid tersebut, menikmati riakan air kolam, merindu Muslimah si Blue Moon. Dan dari keterangan yang ia peroleh dari Imam Mesjid Mubarak, Andi Muslimah adalah anak seorang  tokoh agama Islam di kompleks tersebut. Ia adalah keturunan Bugis, Arab dan Yordania. Andi Muslimah meninggal dunia karena sakit keras yang dideritanya, sebulan sebelum ia menunaikan niatnya berhaji di Baitullah. Keluarganya kini telah pindah ke Yordania. Mesjid Mubarak merupakan mesjid yang didirikan oleh Ayahnya, sementara taman di belakang mesjid tersebut dibangun atas permintaan Andi Muslimah.
                                                             ***

A Little Talk




When I was sitting some metres away from the class, starring at the Teacher teaching inside, I opened my book. I read what haven't been read yet, imangining....

Suddenly a voice flew toward me, seemed to be whispering...

"Big brother..."

I turned my face, "Oh,,,hello...come.." I answered.

 A girl came to me then sat beside me. "Anyways, why don't you come in to the class?" I was trying to make a talk.

"I'm kinda tired, big brother." She answered.

"Oh,, I see."

A minute passed by…Silent...... (I was in silent, and she was too.... I didn't know what kind of idea I was going to talk about...sort of speechless).

A minutes later, when I was trying to talk about something...

"Big brother, how long have you been in college?” she asked.

“Umm…about 3 years…1 year left,,,I wish.”

“Oh…I see. And,,,do you wanna be a teacher after fininshing your study?”

“Mmm…I,,,I’m actually not giving much hope in my goal of being a teacher, I actually want to be more of that, you know…a lecture, could be, and find some additional jobs. Tacher is not a promising job, I mean in terms of earning money, salary. It’s still not equal of what the teachers do in class and their salary. Though they have that so-called “teacher certification”,,,I mean, to be a teacher, we still need more… We may need some additional jobs to raise fund…

# #You know,,,I spoke like a sophisticated one, but above all, the way I think, is like capitalistic one.
“Big brother, do you think that by mastering English, being English teacher, or knowing English can provide us much space in looking for job?” she kept asking.

“Of course, little sister…‘cause you know, English is needed everywhere. Beside teching English in school, you can teach English in a course, private learning, etc. You can also use your English in serving tourists or being interpreter…and many more”.

“So,,big brother, we will hardly find a job when we have no ability of English, right?”

“Could be, could be not…”

Then I went on…
“Little sister, actually,,,above all…if you have an interest of something, a hobby, just keep on developing it, give much attention to it. It will be your power one day, your future, to live your life…”

I went on…
“But, you know, in Indonesia, it’s still hard to develop such a thing. We have less place or space to develop or to improve our creativity, we have less friends or people to share our creativity or to compete with. It’s really different with what happened in the western countries.”

“That’s right big brother… By the way, I like drawing, big brother. I have many drawings of my own. I’m also good at dancing…” (of course you are, ‘cause I saw you dancing in the class just now..# I talked in my mind).

She went on…
“ Yess,,,so poor in Indonesia. Tira aggres. (She changed the “pronoun” of herself using her name, a sort of Jakarta dialect)

This girl is not originally from South Sulawesi. I could see it through the way she talked. And yepp, I knew it by our following talks ‘cause she told me about her experience, her story. She moved to Makassar because her father had a job here (kind of job mutation, perhaps).

Again, she went on…
“You know, big brother… In Indonesia, It’s so annoying, you know people here sometimes do not appreciate something we do. For example, you know sometimes when I’m dancing, people think that I’m just kind of crazy person, doing unimportant thing…”

“Yah,,that’s it. That’s why I wanna go abroad, study there, and enjoy life there.”

“Hmm…by the way, don’t you wanna come in to your class. I think we’ve made a long talk here. I’m just afraid if…mmm…actually we shouldn’t do a talk like this ‘cause you’re supposed to be in class now but, the fact, you’re not in class now.” I went on, trying to give a little advice.

“It’s OK, big brother, it’s OK…Tira’s just kinda tired studying in class.”

“I see, but…mm…Oh ya, you said before that you like drawing. Anyways, you know, I also like drawing, painting, I used to have many drawings…and the way I draw is by imitating a picture…not so bad. I began to draw something when I was five.”

“That must be nice… Hmm, big brother do you wanna go abroad? By the way, Kira has relatives in Singapura, and Kira knows that it’s good to study there. When Kira was in Elementary School, Kira almost went there with Kira’s family and lived there, but unfortunately the plan was cancelled.” She told her experience.

“Nice…”

“Little Sister…!” I suddenly disrupted the talk.

“Let’s get in to the class…The class is almost over.”

We both came in to the class…the class would be over in five minutes. She then sat at her seat, took something from her bag…

“Big brother, this is my drawing, look..” She showed me a piece of paper.

“Wow…beautiful…” I said,,,looking at the Manga (anime picture from Japan) at the paper.

“Do you like drawing Manga?” I asked

“ Yes, I do, big brother.”

“Just keep developing your drawing, little sister. If you have time, you can join groups of Manga lovers to share your drawings or something related to Mange. In facebook maybe you can find such those group, Manga Lovers Makassar maybe, etc. You can join them…”

The bell then rang…class was over.

Sepenggal Kata

Menulislah, maka anda akan meraba dunia, dan membacalah maka anda akan melihat dunia...

READ

......
Template Oleh trikmudahseo