Sebuah Cerpen, Oleh: Abdi Masbara Lumbon
“…Aku sering disini, jika tak ada yang aku kerjakan di
rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya
disini, di Mesjid ini.…Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar. Tuh
sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”
Adi
sejak tadi masih mematung di balik pagar, matanya tak berkedip. Ia
setengah melongo. Pandangannya tertumpah pada seseorang yang tak jauh
disana, di seberang jalan dari rumahnya, di warung pak Mimin. Sesosok
wanita. Ya, sejak tadi pandangan Adi seperti telah terikat, tak mampu
digerakkan, tak mampu ditolehkan pada objek pandang yang lain selain
dari wanita berbalut gaun biru cerah dengan jilbab yang menutupi kepala
hingga ke pundaknya, wanita yang sedang mengantri bersama pelanggan
lainnya di warung pak Mimin.
Adi terus mengamati. Ia seakan tersihir dibuatnya.
“Sungguh
luar biasa ciptaan Tuhan,,,siapa kah wanita yang serba biru itu?” Adi
bergumam dalam hati. Makhluk apakah yang sepagi itu sudah menggetarkan
hatinya, melumpuhkan tembok-tembok kokoh dalam jiwanya, membekukan
pandangannya.
Bagaimana tidak, wanita itu, dari jauh pun
sudah memancarkan pesona keanggunannya, seperti pesona ratu Cleopatra.
Matanya yang indah, lebih indah dan lebih terang dari bintang kejora,
hidungnya yang mancung laksana hidung bidadari-bidadari produksi Timur
Tengah, pipi dan dagunya pun indah serta kulitnya putih bersih.
Betul-betul Adi saat itu seperti Julius Caesar yang telah dimabuk
kepayang oleh keanggunan Ratu Cleopatra, seperti pula Jaka Tarub yang
dibuat melongo oleh kecantikan para Bidadari dari Kahyangan.
“Perfect.
Blue Moon, siapakah namamu? ” Ia kembali bergumam.
Pesona
wanita itu kian merasuk pikiranya, mengantarnya kedalam hayalan yang
begitu tinggi, hingga ia melupakan tugasnya merapikan bunga di halaman
depan, yang sedari tadi dilakukannya tapi terhenti sejenak saat
kemunculan wanita misterius berbalut pakaian serba biru itu.
Blue Moon. Demikian ia menamakannya. Nama tersendiri yang ia sematkan pada wanita itu, untuk pertama kalinya.
“Adi…Adiiii…apa yang telah kau kerjakan itu? Disuruh rapikan bunga
eh malah hanya berdiri melongo.”
Suara
itu membuyarkan lamunannya. Ia membalikkan badan. Nampak Mamanya tengah
berdiri di depan pintu, dengan ekspresi yang sedikit tak berkompromi,
juga kedua tangan tertancap di pinggang, laksana seorang mandor yang
sedang melepaskan omelan-omelan untuk anak buahnya.
“Aaa…iya Ma’, iya, ma’af. Adi tadi hanya sekedar melihat-lihat ke jalan
kok. Adi hanya istirahat sebentar. Kan capek dari tadi
mangkas bunga.”
“Ya udah, lanjutkan sana.” Mamanya berkata sambil berlalu menghilang dibalik pintu.
Sepeninggal Mamanya, Adi berbalik, bermaksud melihat kembali si wanita tadi.
“
Lho, kok nggak ada…
udah pulang mungkin ya???” Adi melongo.
Adi
buru-buru menyelesaikan tugasnya merapikan bunga, tak sabar ingin ke
warung Pak Mimin dan berharap bisa menggali informasi pada Pak Mimin
mengenai sosok wanita berpakaian biru tadi.
15 menit kemudian…
“Eh anak baru…Tumben mampir kesini. Adi ya namanya?” Pak Mimin menyapa Adi yang tiba-tiba mendekatinya.
“Oh Iya, aku Adi, anaknya Bu Minah.”
“Iya,
Ibumu sering kesini membeli nasi kuning atau kue lainnya. Ia juga
pernah bercerita tentang kamu. Katanya kamu anak rajin.” Pak Mimin
bercerita, sambil terus melayani pembelinya.
“Ah, biasa
aja kali Pak…”
“Pak,
ngomong-ngomong,
bapak kenal wanita yang berpakaian biru yang mengantri disini tadi?”
Adi melanjutkan omongannya. Memasang ekspresi keingintahuan.
“Wanita yang mana Di’? Tadi kan banyak wanita juga ibu-ibu yang juga ikut
ngantri.
Wong bapak juga
nggak perhatikan secara seksama satu per satu.”
Hari itu nihil. Adi tak mendapat keterangan apapun tentang si
Blue Moon
tersebut. Pak Mimin tak punya satupun informasi tentang pelanggan
wanitanya yang bergaun biru cerah itu. Ia tak memperhatikannya di
warungnya tadi, apalagi mengetahui seluk beluk wanita tersebut.
Toh
Pak Mimin baru beberapa tahun tinggal dan membangun warungnya di daerah
situ yang mana pelanggannya menjamur begitu cepat. Ia tak begitu
mengenali semua pelanggannya yang seabrek itu. Apalagi Adi, yang baru
seminggu tinggal di rumah yang baru dibeli bapaknya di kompleks itu.
They both have no clue at all.
Adi semakin penasaran dengan wanita anggun bergaun biru dan berjilbab itu.
Keesokan
harinya, Adi kembali berdiri di dekat pagar di halaman depan, menunggu
wanita misterius itu, pada jam yang sama pula. Sesekali ia memandang
kesana dan kemari, menyusuri sudut demi sudut jalanan depan rumahnya
hingga berakhir pada warung Pak Mimin. Pandangannya dominan menuju
kearah sana, meyakinkan bahwa wanita yang membuat ia penasaran tersebut
tak luput dari pandangannya.
Tak berselang berapa lama,
wanita itu muncul, dengan warna pakaian yang masih sama: biru cerah.
Sepertinya wanita itu memang menyukai warna biru. Ia kembali mengantri.
“Oh Tuhan…
that woman finally comes.” Adi berbisik dalam hati, sambil tatapannya difokuskan pada satu titik, pada wanita itu.
Target is locked.
Wanita itu pergi. Adi mengikutinya dari belakang.
“Neng…Nengg….” Adi memanggil.
Wanita itu tak mendengar. Ia masih terus berjalan.
“Neng….Hallooo???” Adi bersikeras memanggilnya.
Tiba-tiba wanita berbalut gaun biru itu berhenti dan membalik badannya.
“Anda memanggil saya?.......kak?” ujar wanita itu.
Ia tersenyum dan menatap Adi yang tiba-tiba langsung terhenti seketika…..dan….
Adi
merasa dunia seakan lenyap, berganti dengan balutan ruang yang penuh
dengan warna-warni yang berputar-putar. Seakan ada sesuatu yang
menghujam keras ke hatinya, tapi ia tak merasakan sakit, yang ada
hanyalah perasaan yang indah, meresap ke seluruh pori-pori jiwanya.
Senyum wanita itu, senyum yang ia tak pernah saksikan sebelumnya dalam
kehidupannya. Senyum yang keluar dari wanita yang kecantikannya luar
biasa. Senyum yang benar-benar membuat ia mabuk kepayang.
“Neng, bolekah saya bertanya, Neng?”
“Iya, tak apa…” Wanita itu menjawab halus.
“Neng namanya siapa, tinggal dimana pula?”
“Hmm…jika
ingin berkenalan, temuilah saya nanti pukul 15.00 di taman Masjid
Mubarak…Tahu kan Masjid Mubarak, masjid kompleks ini?”
“Iya Neng.” jawab Adi.
Wanita
itu berlalu sembari meninggalkan senyum yang teduh menemani Adi yang
sedari tadi tak bergerak, seperti orang yang kena totok.
Adi
tahu betul masjid itu. Satu-satunya mesjid di kompleksnya. Masjid yang
mempunyai taman di belakangnya. Di tengah taman masjid itu terdapat
kolam ikan serta beberapa tempat duduk disekitarnya yang digunakan orang
untuk beristirahat sambil menikmati riakan air kolam juga seluruh isi
taman.
***
Dari
jauh nampak wanita bergaun biru cerah itu tengah duduk di samping
kolam, sesekali melepar batu ke dalam kolam, menikmati riakannya.
Disampingnya terdapat beberapa buah buku, juga tasnya yang berwarna
biru. Adi mendekat.
Kedatangan Adi hampir mengagetkannya.
“Assalamualaikum, Neng…”
“Waalaikum
salam…Silahkan duduk, kak…” wanita itu menjawab. Ia mencoba sedikit
akrab dengan menggunakan panggilan ‘kak’, kepada Adi. Tak lupa pula
dibarengi dengan senyuman mautnya.
“hmm…aku mungkin terlambat sedikit…” Adi membuka pembicaraan.
“Oh
tidak, kamu tak terlambat. aku yang terlalu cepat kesini. Aku memang
selalu seperti ini. Selalu cepat.” Ujarnya sedikit menyalahkan diri.
“Oh ya, namaku Andi Muslimah.” Wanita itu melanjutkan.
“Aku, Adi Firmansyah. Panggil saja Adi.” Adi memperkenalkan dirinya.
Adi menjabat tangan Muslimah. Tangan wanita itu begitu dingin.
“Adi….Nama yang bagus.” Muslimah menatap Adi. Ia melanjutkan lagi…memandang kea rah kolam.
“Aku
biasanya disini, di tempat ini, jika tak ada yang aku kerjakan di
rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya
disini, di taman dan Mesjid ini.…Hmm,
ngomong-ngomong, Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar.
Tuh sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”
Adi
mengikuti shalat berjama’ah di Mesjid Mubarak, begitupun Muslimah.
Setelah sholat, mereka melanjutkan kembali obrolan mereka. Muslimah
banyak bertanya tentang Adi, tentang kepindahannya yang baru seminggu di
kompleks itu. Adi tak begitu banyak mengorek tentang kehidupan
Muslimah. Wanita itu benar-benar dingin di pandangan Adi. Adi selalu
saja terdiam jika ingin bertanya sesuatu padanya. Adi seperti membeku.
Hari
itu, hari yang benar-benar indah bagi Adi. Bertemu sekaligus berbicara
dengan wanita seperti Muslimah merupakan rezeki yang tak ternilai
harganya. Pesan Muslimah sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing:
Jika kau masih ingin mengobrol, temui aku di tempat ini besok. Pukul 12.00.
Adi
menemui Muslimah keesokan harinya. Pada jam yang sesuai dengan pesan
Muslimah. Nampak Muslimah sudah lebih dahulu datang di taman itu.
Seperti dirinya adanya, selalu cepat dan lebih awal. Juga tak
ketinggalan warna pakaiannya yang selalu sama: biru cerah. Pun seperti
biasanya, hanya lima menitan mereka mengobrol, suara adzan memanggil.
Mereka shalat berjamaah. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan
obrolan-obrolan mereka. Mungkin Muslimah sengaja mengatur waktu seperti
demikian_bertemu dan mengobrol sesaat sebelum waktu sholat. Atau memang
sudah kebiasaan Muslimah seperti itu. Adi pun kelihatan tak menyadari
hal itu. Ia hanya mengikuti perintah Muslimah. Ia seperti tersihir dan
mengangguk begitu saja di hadapan wanita berparas bidadari itu.
***
Hari-hari
berjalan seperti biasa. Begitu pula Adi dan Muslimah yang sering
bertemu dan mengobrol pada waktu yang seperti biasa pula. Tak terasa,
usia pertemuan dan obrolan-obrolan mereka sudah hampir satu bulan.
Tanggal 5 tiga hari yang akan datang genaplah sudah satu bulan
perjalanan obrolan mereka. Terbesit dalam pikiran Adi untuk memberikan
sesuatu pada Muslimah. Sebuah hadiah, sebuah kejutan.
Beberapa
hari sebelumnya Adi sempat menyatakan sesuatu pada Muslimah. Tentang
perasaannya. Ya, memang sejak pertama kali melihat Muslimah, Adi sudah
menyimpan perasaan cinta, hingga mereka berkenalan, dan melakukan
‘ritual-ritual’ pertemuan dan obrolan itu, rasa dalam hati Adi semakin
meluap dan tak terbendung. Adi juga telah menyampaikan keinginannya
melamar Muslimah, si
Blue Moon-nya itu. Muslimah hanya menjawab:
“Jika
kau telah mampu juga siap lahir bathin, maka temuilah aku disini, di
taman mesjid ini, beberapa menit sebelum waktu shalat. Aku akan selalu
disini menunggumu.”
Hari yang ditunggu-tunggu Adi pun
tiba. Tanggal 5. Ia telah bersiap di rumahnya, juga dengan hadiahnya
tersebut. Pukul 15.00 ia akan segera ke taman, menjumpai Muslimah.
***
Adi
tiba di taman mesjid tepat pada pukul 15.00, tak lebih, tak pula kurang
semenit pun seperti yang ditunjukkan oleh arloji di tangan kirinya.
Akan tetapi, wanita berpakaian biru cerah itu tak disana. Muslimah tak
berada di tempat duduknya di dekat kolam. Adi sedikit lesu, tapi ia
tetap bersemangat. Ditunggunya Muslimah dengan sabar. Sudah beberapa
menit berlalu tapi gaun berwarna biru itu belum tampak di pelupuk
matanya. Adzan pun memanggil. Ia lalu ke mesjid. Sholat berjama’ah.
Setelah
sholat Ashar, Adi kembali ke taman mesjid. Tapi, Muslimah tak kunjung
muncul juga. Ribuan tanya menyusup pikiran Adi, mengusik hatinya.
“Muslimah, mengapa kau tak hadir hari ini, aku punya sesuatu untukmu….Muslimah cinta kamu.” Gumam adi dalam hati.
Hari semakin sore, matahari mulai menjauhi arah timur, mulai hilang di pelupuk mata. Adi memutuskan untuk pulang.
Sepanjang
malam Adi tak bisa tidur. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Muslimah.
Muslimah hari itu telah menghantui pikirannya, mengguncang hati dan
jiwanya. Tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. Secarik kertas yang pernah
diberikan Muslimah pada saat mereka bertemu kesekian kalinya. Kertas itu
berisi alamat rumah Muslimah.
Adi membuka laci meja.
Mencari kertas itu. Akhirnya ia menemukannya. Kertas itu terselip di
buku diarinya. Ia membukanya, membacanya: “Lorong Anggrek Biru No.5.”
***
Siang itu Adi keluar rumah, menyusuri jalan, berbelok ke sebuah lorong, masuk lagi ke sebuah lorong berikutnya.
“Aku yakin di lorong inilah alamatnya…” gumam Adi.
Adi
menyusuri lorong tersebut, yang didepannya terdapat sebuah papan
bertuliskan nama lorong itu. Tak terlalu jelas tulisan tersebut karena
mungkin telah termakan zaman. Tapi sekilas masih dapat terbaca: Lorong
Anggrek Biru.
Lorong itu terlihat sepi. Perumahan penduduk
terlihat hanya satu-satu. Masih terhitung dengan jari. Adi terus
berjalan. Tiba-tiba ia terhenti pada suatu pekarangan yang agak luas,
berpagar tembok. Disamping tembok itu pandangan Adi dibuat tak bergeming
oleh sebuah tulisan: Anggrek Biru No.5. Ia melihat kembali pekarangan
luas itu, dilemparkanlah pandangannya dari sudut ke sudut. Ribuan batu
nisan nampak disana, di pekarangan itu. Ribuan kuburan berbaris rapi
disana. Adi mematung, tak bergerak, matanya sedikit terbuka lebar,
mulutnya seperti terkunci rapat, tak bisa berkata-kata. Ia merinding.
“Apakah benar inilah alamat rumahmu, Muslimah?” bisik Adi dalam hati.
Diantara
ribuan kuburan tersebut, ada satu kuburan yang berbeda, terlihat agak
besar, dibaluti tegel berwarna biru cerah. Pandangan Adi tertuju kesana.
Ia mendekati kuburan tersebut. Dilihatnya secara dekat. Pada batu nisan
tertulis “Andi Muslimah, Wafat 1997”.
Adi tak kuasa
membendung air matanya. Ia menangis tersedu sedan disamping kuburan
bertegel biru cerah itu. Pandangannya memburam, hidupnya terasa hampa.
Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Dibukanya kotak itu, nampak
cincin bermata saphir terselip rapi di dasar kotak, berkilau-kilau
diterpa sinar matahari. Ia menaruh cincin itu di depan nisan. Adi
beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Ia tak kuat.
Semenjak
kejadian tersebut Adi sering ke Masjid Mubarak, sholat berjama’ah, lalu
menyempatkan diri mengunjungi taman di belakang Masjid tersebut,
menikmati riakan air kolam, merindu Muslimah si
Blue Moon. Dan
dari keterangan yang ia peroleh dari Imam Mesjid Mubarak, Andi Muslimah
adalah anak seorang tokoh agama Islam di kompleks tersebut. Ia adalah
keturunan Bugis, Arab dan Yordania. Andi Muslimah meninggal dunia karena
sakit keras yang dideritanya, sebulan sebelum ia menunaikan niatnya
berhaji di Baitullah. Keluarganya kini telah pindah ke Yordania. Mesjid
Mubarak merupakan mesjid yang didirikan oleh Ayahnya, sementara taman di
belakang mesjid tersebut dibangun atas permintaan Andi Muslimah.
***