Selamat membaca

semoga bermanfaat

WIDGET

Label

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followerku

BlogRoll

Blogger news

Bahagia itu nikmat, senikmat kopi dengan moka putih.

Tak Bernada



Senandung kehidupan ini setengah kehilangan nada
Petukan-petukannya sudah tak beraturan
Turun ke bawah, terus ke bawah, hanya sesekali naik ke atas
Sungguh manusia tak pintar lagi melagu
Berbicara pun ia hampir tak bisa
Hanyalah berteriak
Teriakan yang memecahkan gendang telinganya sendiri
Teriakan yang merobohkan dunianya sendiri
Tak tahu malu, tak tahu melagu
Tak tahu nada kehidupan

Sajak Bulan Bermata Sayu


Bulan bermata sayu
Wajahnya teduh
Tenggelam di hatiku
Menuai rindu

Bulan bermata sayu
Pandanganya sendu
Terpaut di kalbuku
Memberi candu

Bulan bermata sayu
Aku dibuatnya belagu
Matipun aku mau, tak ragu
Tapi hatinya tak tentu, rasaku membatu

Lima purnama tlah berlalu
Rasaku terbawa waktu
Bersimbah pilu
Tak seorang pun tahu

Bulan bermata sayu
Biarpun sewindu
Aku tetap menunggu
Pun sampai akhir hayatku

Blue Moon: “Temuilah aku disini, beberapa menit sebelum waktu shalat tiba.”





Sebuah Cerpen, Oleh: Abdi Masbara Lumbon


“…Aku sering disini, jika tak ada yang aku kerjakan di rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya disini, di Mesjid ini.…Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar. Tuh sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”


Adi sejak tadi masih mematung di balik pagar, matanya tak berkedip. Ia setengah melongo. Pandangannya tertumpah pada seseorang yang tak jauh disana, di seberang jalan dari rumahnya, di warung pak Mimin. Sesosok wanita. Ya, sejak tadi pandangan Adi seperti telah terikat, tak mampu digerakkan, tak mampu ditolehkan pada objek pandang yang lain selain dari wanita berbalut gaun biru cerah dengan jilbab yang menutupi kepala hingga ke pundaknya, wanita yang sedang mengantri bersama pelanggan lainnya di warung pak Mimin.

Adi terus mengamati. Ia seakan tersihir dibuatnya.

“Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan,,,siapa kah wanita yang serba biru itu?” Adi bergumam dalam hati. Makhluk apakah yang sepagi itu sudah menggetarkan hatinya, melumpuhkan tembok-tembok kokoh dalam jiwanya, membekukan pandangannya.

Bagaimana tidak, wanita itu, dari jauh pun sudah memancarkan pesona keanggunannya, seperti pesona ratu Cleopatra. Matanya yang indah, lebih indah dan lebih terang dari bintang kejora, hidungnya yang mancung laksana hidung bidadari-bidadari produksi Timur Tengah, pipi dan dagunya pun indah serta kulitnya putih bersih. Betul-betul Adi saat itu seperti Julius Caesar yang telah dimabuk kepayang oleh keanggunan Ratu Cleopatra, seperti pula Jaka Tarub yang dibuat melongo oleh kecantikan para Bidadari dari Kahyangan.

“Perfect. Blue Moon, siapakah namamu? ” Ia kembali bergumam.

Pesona wanita itu kian merasuk pikiranya,  mengantarnya kedalam hayalan yang begitu tinggi, hingga ia melupakan tugasnya merapikan bunga di halaman depan, yang sedari tadi dilakukannya tapi terhenti sejenak saat kemunculan wanita misterius berbalut pakaian serba biru itu. Blue Moon. Demikian ia menamakannya. Nama tersendiri yang ia sematkan pada wanita itu, untuk  pertama kalinya.

“Adi…Adiiii…apa yang telah kau kerjakan itu? Disuruh rapikan bunga eh malah hanya berdiri melongo.”

Suara itu membuyarkan lamunannya. Ia membalikkan badan. Nampak Mamanya tengah berdiri di depan pintu, dengan ekspresi yang sedikit tak berkompromi, juga kedua tangan tertancap di pinggang, laksana seorang mandor yang sedang melepaskan omelan-omelan untuk anak buahnya.

“Aaa…iya Ma’, iya, ma’af. Adi tadi hanya sekedar melihat-lihat ke jalan kok. Adi hanya istirahat sebentar. Kan capek dari tadi mangkas bunga.”

“Ya udah, lanjutkan sana.” Mamanya berkata sambil berlalu menghilang dibalik pintu.

Sepeninggal Mamanya, Adi berbalik, bermaksud melihat kembali si wanita tadi.

Lho, kok nggak ada…udah pulang mungkin ya???” Adi melongo.

Adi buru-buru menyelesaikan tugasnya merapikan bunga, tak sabar ingin ke warung Pak Mimin dan berharap bisa menggali informasi pada Pak Mimin mengenai sosok wanita berpakaian biru tadi.

15 menit kemudian…


“Eh anak baru…Tumben mampir kesini. Adi ya namanya?” Pak Mimin menyapa Adi yang tiba-tiba mendekatinya.

“Oh Iya, aku Adi, anaknya Bu Minah.”

“Iya, Ibumu sering kesini membeli nasi kuning atau kue lainnya. Ia juga pernah bercerita tentang kamu. Katanya kamu anak rajin.” Pak Mimin bercerita, sambil terus melayani pembelinya.

“Ah, biasa aja kali Pak…”

“Pak, ngomong-ngomong, bapak kenal wanita yang berpakaian biru yang mengantri disini tadi?” Adi melanjutkan omongannya. Memasang ekspresi keingintahuan.

“Wanita yang mana Di’? Tadi kan banyak wanita juga ibu-ibu yang juga ikut ngantri. Wong bapak juga nggak perhatikan secara seksama satu per satu.”

Hari itu nihil. Adi tak mendapat keterangan apapun tentang si Blue Moon tersebut. Pak Mimin tak punya satupun informasi tentang pelanggan wanitanya yang bergaun biru cerah itu. Ia tak memperhatikannya di warungnya tadi, apalagi mengetahui seluk beluk wanita tersebut. Toh Pak Mimin baru beberapa tahun tinggal dan membangun warungnya di daerah situ yang mana pelanggannya menjamur begitu cepat. Ia tak begitu mengenali semua pelanggannya yang seabrek itu. Apalagi Adi, yang baru seminggu tinggal di rumah yang baru dibeli bapaknya di kompleks itu. They both have no clue at all.

Adi semakin penasaran dengan wanita anggun bergaun biru dan berjilbab itu.

Keesokan harinya, Adi kembali berdiri di dekat pagar di halaman depan, menunggu wanita misterius itu, pada jam yang sama pula. Sesekali ia memandang kesana dan kemari, menyusuri sudut demi sudut jalanan depan rumahnya hingga berakhir pada warung Pak Mimin. Pandangannya dominan menuju kearah sana, meyakinkan bahwa wanita yang membuat ia penasaran tersebut tak luput dari pandangannya.

Tak berselang berapa lama, wanita itu muncul, dengan warna pakaian yang masih sama: biru cerah. Sepertinya wanita itu memang menyukai warna biru. Ia kembali mengantri.

“Oh Tuhan…that woman finally comes.” Adi berbisik dalam hati, sambil tatapannya difokuskan pada satu titik, pada wanita itu. Target is locked.

Wanita itu pergi. Adi mengikutinya dari belakang.

“Neng…Nengg….” Adi memanggil.

Wanita itu tak mendengar. Ia masih terus berjalan.

“Neng….Hallooo???” Adi bersikeras memanggilnya.

Tiba-tiba wanita berbalut gaun biru itu berhenti dan membalik badannya.

“Anda memanggil saya?.......kak?” ujar wanita itu.

Ia tersenyum dan menatap Adi yang tiba-tiba langsung terhenti seketika…..dan….

Adi merasa dunia seakan lenyap, berganti dengan balutan ruang yang penuh dengan warna-warni yang berputar-putar. Seakan ada sesuatu yang menghujam keras ke hatinya, tapi ia tak merasakan sakit, yang ada hanyalah perasaan yang indah, meresap ke seluruh pori-pori jiwanya. Senyum wanita itu, senyum yang ia tak pernah saksikan sebelumnya dalam kehidupannya. Senyum yang keluar dari wanita yang kecantikannya luar biasa. Senyum yang benar-benar membuat ia mabuk kepayang.

“Neng, bolekah saya bertanya, Neng?”

“Iya, tak apa…” Wanita itu menjawab halus.

“Neng namanya siapa, tinggal dimana pula?”

“Hmm…jika ingin berkenalan, temuilah saya nanti pukul 15.00 di taman Masjid Mubarak…Tahu kan Masjid Mubarak, masjid kompleks ini?”

“Iya Neng.” jawab Adi.

Wanita itu berlalu sembari meninggalkan senyum yang teduh menemani Adi yang sedari tadi tak bergerak, seperti orang yang kena totok.

Adi tahu betul masjid itu. Satu-satunya mesjid di kompleksnya. Masjid yang mempunyai taman di belakangnya. Di tengah taman masjid itu terdapat kolam ikan serta beberapa tempat duduk disekitarnya yang digunakan orang untuk beristirahat sambil menikmati riakan air kolam juga seluruh isi taman.
                                                              ***

Dari jauh nampak wanita bergaun biru cerah itu tengah duduk di samping kolam, sesekali melepar batu ke dalam kolam, menikmati riakannya. Disampingnya terdapat beberapa buah buku, juga tasnya yang berwarna biru. Adi mendekat.

Kedatangan Adi hampir mengagetkannya.

“Assalamualaikum, Neng…”

“Waalaikum salam…Silahkan duduk, kak…” wanita itu menjawab. Ia mencoba sedikit akrab dengan menggunakan panggilan ‘kak’, kepada Adi. Tak lupa pula dibarengi dengan senyuman mautnya.

“hmm…aku mungkin terlambat sedikit…” Adi membuka pembicaraan.

“Oh tidak, kamu tak terlambat. aku yang terlalu cepat kesini. Aku memang selalu seperti ini. Selalu cepat.” Ujarnya sedikit menyalahkan diri.

“Oh ya, namaku Andi Muslimah.” Wanita itu melanjutkan.

“Aku, Adi Firmansyah. Panggil saja Adi.” Adi memperkenalkan dirinya.

Adi menjabat tangan Muslimah. Tangan wanita itu begitu dingin.

“Adi….Nama yang bagus.” Muslimah menatap Adi. Ia melanjutkan lagi…memandang kea rah kolam.

“Aku biasanya disini, di tempat ini, jika tak ada yang aku kerjakan di rumah, jika perasaanku lagi tak begitu bersahabat. Aku melepas semuanya disini, di taman dan Mesjid ini.…Hmm, ngomong-ngomong, Ayuk kita shalat dulu, sudah waktunya Ashar. Tuh sudah bunyi adzan. Sebentar kita lanjutkan…”

Adi mengikuti shalat berjama’ah di Mesjid Mubarak, begitupun Muslimah. Setelah sholat, mereka melanjutkan kembali obrolan mereka. Muslimah banyak bertanya tentang Adi, tentang kepindahannya yang baru seminggu di kompleks itu. Adi tak begitu banyak mengorek tentang kehidupan Muslimah. Wanita itu benar-benar dingin di pandangan Adi. Adi selalu saja terdiam jika ingin bertanya sesuatu padanya. Adi seperti membeku.

Hari itu, hari yang benar-benar indah bagi Adi. Bertemu sekaligus berbicara dengan wanita seperti Muslimah merupakan rezeki yang tak ternilai harganya. Pesan Muslimah sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing: Jika kau masih ingin mengobrol, temui aku di tempat ini besok. Pukul 12.00.


Adi menemui Muslimah keesokan harinya. Pada jam yang sesuai dengan pesan Muslimah. Nampak Muslimah sudah lebih dahulu datang di taman itu. Seperti dirinya adanya, selalu cepat dan lebih awal. Juga tak ketinggalan warna pakaiannya yang selalu sama: biru cerah. Pun seperti biasanya, hanya lima menitan mereka mengobrol, suara adzan memanggil. Mereka shalat berjamaah. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan obrolan-obrolan mereka. Mungkin Muslimah sengaja mengatur waktu seperti demikian_bertemu dan mengobrol sesaat sebelum waktu sholat. Atau memang sudah kebiasaan Muslimah seperti itu. Adi pun kelihatan tak menyadari hal itu. Ia hanya mengikuti perintah Muslimah. Ia seperti tersihir dan mengangguk begitu saja di hadapan wanita berparas bidadari itu.
                                                               ***

Hari-hari berjalan seperti biasa. Begitu pula Adi dan Muslimah yang sering bertemu dan mengobrol pada waktu yang seperti biasa pula. Tak terasa, usia pertemuan dan obrolan-obrolan mereka sudah hampir satu bulan. Tanggal 5 tiga hari yang akan datang genaplah sudah satu bulan perjalanan obrolan mereka. Terbesit dalam pikiran Adi untuk memberikan sesuatu pada Muslimah. Sebuah hadiah, sebuah kejutan.

Beberapa hari sebelumnya Adi sempat menyatakan sesuatu pada Muslimah. Tentang perasaannya. Ya, memang sejak pertama kali melihat Muslimah, Adi sudah menyimpan perasaan cinta, hingga mereka berkenalan, dan melakukan ‘ritual-ritual’ pertemuan dan obrolan itu, rasa dalam hati Adi semakin meluap dan tak terbendung. Adi juga telah menyampaikan keinginannya melamar Muslimah, si Blue Moon-nya itu. Muslimah hanya menjawab:
“Jika kau telah mampu juga siap lahir bathin, maka temuilah aku disini, di taman mesjid ini, beberapa menit sebelum waktu shalat. Aku akan selalu disini menunggumu.”

Hari yang ditunggu-tunggu Adi pun tiba. Tanggal 5. Ia telah bersiap di rumahnya, juga dengan hadiahnya tersebut. Pukul 15.00 ia akan segera ke taman, menjumpai Muslimah.
                                                                ***

Adi tiba di taman mesjid tepat pada pukul 15.00, tak lebih, tak pula kurang semenit pun seperti yang ditunjukkan oleh arloji di tangan kirinya. Akan tetapi, wanita berpakaian biru cerah itu tak disana. Muslimah tak berada di tempat duduknya di dekat kolam. Adi sedikit lesu, tapi ia tetap bersemangat. Ditunggunya Muslimah dengan sabar. Sudah beberapa menit berlalu tapi gaun berwarna biru itu belum tampak di pelupuk matanya. Adzan pun memanggil. Ia lalu ke mesjid. Sholat berjama’ah.

Setelah sholat Ashar, Adi kembali ke taman mesjid. Tapi, Muslimah tak kunjung muncul juga. Ribuan tanya menyusup pikiran Adi, mengusik hatinya.

“Muslimah, mengapa kau tak hadir hari ini, aku punya sesuatu untukmu….Muslimah cinta kamu.” Gumam adi dalam hati.

Hari semakin sore, matahari mulai menjauhi arah timur, mulai hilang di pelupuk mata. Adi memutuskan untuk pulang.

Sepanjang malam Adi tak bisa tidur. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Muslimah. Muslimah hari itu telah menghantui pikirannya, mengguncang hati dan jiwanya. Tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. Secarik kertas yang pernah diberikan Muslimah pada saat mereka bertemu kesekian kalinya. Kertas itu berisi alamat rumah Muslimah.

Adi membuka laci meja. Mencari kertas itu. Akhirnya ia menemukannya. Kertas itu terselip di buku diarinya. Ia membukanya, membacanya: “Lorong Anggrek Biru No.5.”
                                                                ***

Siang itu Adi keluar rumah, menyusuri jalan, berbelok ke sebuah lorong, masuk lagi ke sebuah lorong berikutnya.

“Aku yakin di lorong inilah alamatnya…” gumam Adi.

Adi menyusuri lorong tersebut, yang didepannya terdapat sebuah papan bertuliskan nama lorong itu. Tak terlalu jelas tulisan tersebut karena mungkin telah termakan zaman. Tapi sekilas masih dapat terbaca: Lorong Anggrek Biru.

Lorong itu terlihat sepi. Perumahan penduduk terlihat hanya satu-satu. Masih terhitung dengan jari. Adi terus berjalan. Tiba-tiba ia terhenti pada suatu pekarangan yang agak luas, berpagar tembok. Disamping tembok itu pandangan Adi dibuat tak bergeming oleh sebuah tulisan: Anggrek Biru No.5.  Ia melihat kembali pekarangan luas itu, dilemparkanlah pandangannya dari sudut ke sudut. Ribuan batu nisan nampak disana, di pekarangan itu. Ribuan kuburan berbaris rapi disana. Adi mematung, tak bergerak, matanya sedikit terbuka lebar, mulutnya seperti terkunci rapat, tak bisa berkata-kata. Ia merinding.

“Apakah benar inilah alamat rumahmu, Muslimah?” bisik Adi dalam hati.

Diantara ribuan kuburan tersebut, ada satu kuburan yang berbeda, terlihat agak besar, dibaluti tegel berwarna biru cerah. Pandangan Adi tertuju kesana. Ia mendekati kuburan tersebut. Dilihatnya secara dekat. Pada batu nisan tertulis “Andi Muslimah, Wafat 1997”.

Adi tak kuasa membendung air matanya. Ia menangis tersedu sedan disamping kuburan bertegel biru cerah itu. Pandangannya memburam, hidupnya terasa hampa. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Dibukanya kotak itu, nampak cincin bermata saphir terselip rapi di dasar kotak, berkilau-kilau diterpa sinar matahari. Ia menaruh cincin itu di depan nisan. Adi beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Ia tak kuat.

Semenjak kejadian tersebut Adi sering ke Masjid Mubarak, sholat berjama’ah, lalu menyempatkan diri mengunjungi taman di belakang Masjid tersebut, menikmati riakan air kolam, merindu Muslimah si Blue Moon. Dan dari keterangan yang ia peroleh dari Imam Mesjid Mubarak, Andi Muslimah adalah anak seorang  tokoh agama Islam di kompleks tersebut. Ia adalah keturunan Bugis, Arab dan Yordania. Andi Muslimah meninggal dunia karena sakit keras yang dideritanya, sebulan sebelum ia menunaikan niatnya berhaji di Baitullah. Keluarganya kini telah pindah ke Yordania. Mesjid Mubarak merupakan mesjid yang didirikan oleh Ayahnya, sementara taman di belakang mesjid tersebut dibangun atas permintaan Andi Muslimah.
                                                             ***

A Little Talk




When I was sitting some metres away from the class, starring at the Teacher teaching inside, I opened my book. I read what haven't been read yet, imangining....

Suddenly a voice flew toward me, seemed to be whispering...

"Big brother..."

I turned my face, "Oh,,,hello...come.." I answered.

 A girl came to me then sat beside me. "Anyways, why don't you come in to the class?" I was trying to make a talk.

"I'm kinda tired, big brother." She answered.

"Oh,, I see."

A minute passed by…Silent...... (I was in silent, and she was too.... I didn't know what kind of idea I was going to talk about...sort of speechless).

A minutes later, when I was trying to talk about something...

"Big brother, how long have you been in college?” she asked.

“Umm…about 3 years…1 year left,,,I wish.”

“Oh…I see. And,,,do you wanna be a teacher after fininshing your study?”

“Mmm…I,,,I’m actually not giving much hope in my goal of being a teacher, I actually want to be more of that, you know…a lecture, could be, and find some additional jobs. Tacher is not a promising job, I mean in terms of earning money, salary. It’s still not equal of what the teachers do in class and their salary. Though they have that so-called “teacher certification”,,,I mean, to be a teacher, we still need more… We may need some additional jobs to raise fund…

# #You know,,,I spoke like a sophisticated one, but above all, the way I think, is like capitalistic one.
“Big brother, do you think that by mastering English, being English teacher, or knowing English can provide us much space in looking for job?” she kept asking.

“Of course, little sister…‘cause you know, English is needed everywhere. Beside teching English in school, you can teach English in a course, private learning, etc. You can also use your English in serving tourists or being interpreter…and many more”.

“So,,big brother, we will hardly find a job when we have no ability of English, right?”

“Could be, could be not…”

Then I went on…
“Little sister, actually,,,above all…if you have an interest of something, a hobby, just keep on developing it, give much attention to it. It will be your power one day, your future, to live your life…”

I went on…
“But, you know, in Indonesia, it’s still hard to develop such a thing. We have less place or space to develop or to improve our creativity, we have less friends or people to share our creativity or to compete with. It’s really different with what happened in the western countries.”

“That’s right big brother… By the way, I like drawing, big brother. I have many drawings of my own. I’m also good at dancing…” (of course you are, ‘cause I saw you dancing in the class just now..# I talked in my mind).

She went on…
“ Yess,,,so poor in Indonesia. Tira aggres. (She changed the “pronoun” of herself using her name, a sort of Jakarta dialect)

This girl is not originally from South Sulawesi. I could see it through the way she talked. And yepp, I knew it by our following talks ‘cause she told me about her experience, her story. She moved to Makassar because her father had a job here (kind of job mutation, perhaps).

Again, she went on…
“You know, big brother… In Indonesia, It’s so annoying, you know people here sometimes do not appreciate something we do. For example, you know sometimes when I’m dancing, people think that I’m just kind of crazy person, doing unimportant thing…”

“Yah,,that’s it. That’s why I wanna go abroad, study there, and enjoy life there.”

“Hmm…by the way, don’t you wanna come in to your class. I think we’ve made a long talk here. I’m just afraid if…mmm…actually we shouldn’t do a talk like this ‘cause you’re supposed to be in class now but, the fact, you’re not in class now.” I went on, trying to give a little advice.

“It’s OK, big brother, it’s OK…Tira’s just kinda tired studying in class.”

“I see, but…mm…Oh ya, you said before that you like drawing. Anyways, you know, I also like drawing, painting, I used to have many drawings…and the way I draw is by imitating a picture…not so bad. I began to draw something when I was five.”

“That must be nice… Hmm, big brother do you wanna go abroad? By the way, Kira has relatives in Singapura, and Kira knows that it’s good to study there. When Kira was in Elementary School, Kira almost went there with Kira’s family and lived there, but unfortunately the plan was cancelled.” She told her experience.

“Nice…”

“Little Sister…!” I suddenly disrupted the talk.

“Let’s get in to the class…The class is almost over.”

We both came in to the class…the class would be over in five minutes. She then sat at her seat, took something from her bag…

“Big brother, this is my drawing, look..” She showed me a piece of paper.

“Wow…beautiful…” I said,,,looking at the Manga (anime picture from Japan) at the paper.

“Do you like drawing Manga?” I asked

“ Yes, I do, big brother.”

“Just keep developing your drawing, little sister. If you have time, you can join groups of Manga lovers to share your drawings or something related to Mange. In facebook maybe you can find such those group, Manga Lovers Makassar maybe, etc. You can join them…”

The bell then rang…class was over.

The Quality of Football in Indonesia


-->
The Quality of Football in Indonesia
Indonesian Football was mired in controversy since some years before. This case finally created many bad things to the quality of football in Indonesia. The top of the controversy was when there were many demonstrations against the nomination of Nurdin Halid as chair of PSSI (Persatuan Sepakbola Indonesia) or Indonesian Football Association. Then a brawl resulted in the cancellation of the PSSI congress in Pekanbaru. But the most serious problem was the emergence of a Breakaway Football League Last January: Liga Primer Indonesia or LPI (Indonesia Premier League). Many effects that have been done to Indonesian Football, governments in PSSI do not see the way to improve the quality of football but they develop The association for getting money, doing corruption in PSSI, even they make it as a political work.
Blog Catatan Bujangan says that Indonesia has not yet won a medal from international games: Since 1991 up to now Indonesia had not won titles. No gold medals were achieved, even in the Tiger Cup which has been renamed AFF, we have never been a champion. In a column written in ESPNSPORT.com, Jesse Fink thinks that FIFA should better lend a hand in improving Indonesia's football. According to him this is the step needed to save Indonesia's football.
If we talk about the quality of football, we have to look at the quality of player, club, and the competition. The quality of club and competition will influence the quality of player. According to fariddjunks.blogspot.com, Indonesian Football Players have some weaknesses :
  1. Indonesian player has a very bad football basic skills. To prove it, watch a passing, shooting, and positioning Indonesian Player. Compare it with European, Latino, or maybe Japan and South Korean. I believe you will agree with me.
  2. There is no an opportunist striker with a high sense of creating goal’s. Actually, Indonesia has Bambang Pamungkas as a good striker. But, he’s not an opportunist striker like Ruud Van Nistelrooy, or Samuel Eto’o. He is more capable to play in 2 striker modes than 3 strikers with 2 wings.
  3. League Quality runs too far than national team quality. Look at England National teams. Their league was improved to become the best league in the world. What is an effect? foreign player was booming, so the local player must compete them. Finally, the same quality of local  player will be the other choice because business and popularity reason. It makes  local player chose to play in lower team and they can’t improve their skills nor lacks of international match event. It’s happened in Indonesian Leagues too. Now, Indonesian leagues become one of the best league in south east asia. It makes the same condition with england premier league. Club will get the foreign player with same quality (maybe better) with a lower price. Good player won’t be improved and choose to play in lower club level. The solution is naturalization and send Indonesian player to foreign leagues (in more competitive leagues like european league or Japan/South korean league). Naturalization can improve national team quality, and foreign leagues can make local player feel a good atmosphere in competition and become a good player.
  4. The worst management of PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).
  5. The worst regeneration of Indonesian football team. To analyze this reason, there are some facts. First, the frequency of football field in village is bigger than city. Second, the air quality in village is more fresh than in city. From this fact, we can conclude that villagers have many probability to be a good football player than people in city. But why PSSI always try to search a great player from city, not like the other sport?
  6. Indonesian players  play with their body (physical contact), that’s not a genius player!! What are the carachteristics of genius player? They do a good decision, they can read the playing plot, and they combine logic and intuitive.  Paolo Maldini, Zinedine Zidane, David Beckham, Juan Roman Riquelme, Kaka, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, Franc Ribery, Miroslav Klose, Shunsuke Nakamura, Younes Mahmoud, Franz Beckenbauer, Michel Platini, Johan Cruijff is a genius player. In indonesia, there is Widodo C.Putro, Fachri Husaini, or Bima Sakti who use their brain to play football. Now, this type of player is very rare..
  7. The worst of mentality.
Now if we look at the result of many games or competitions that have been done by some football clubs in Indonesia, it shows that there are many develpments in the quality of football in Indonesia. As the fact, we can the result of AFF Competition some months ago, Indonesian Football Team got the second place of the winner. It also shows the improvement which is done by Alfred Riedl, the coach of Indonesian fooball team. By this success we can take a point that Indonesia really needs touch of foreigner to improve the quality of football. We need foreign coaches, naturalization of player, traning with foreign player, player exchange, etc.
There are some ways to improve the quality of Football in Indonesia, such as :
1.      Improve the management of the Football association in Indonesia like PSSI, take a good chief to lead the association.
2.      Need naturalization for the players.
3.      Provide chance for Indonesian player to play in foreign country.
4.      Maintance a good nutrition for players.
5.      Take foreign coach to lead Indonesian Football Clubs
6.      Look for good player all over Indonesia, from village to city, provinces by provinces. For example, players from Irian Jaya. They have good physic and good playing. They can be offered to lead Indonesia Football Team.
7.      Do many football tranings to improve skills.
8.      Streghten the quality of Clubs and Competitions.
9.      Players must have good mentality and great wish to develop.

Sepenggal Kata

Menulislah, maka anda akan meraba dunia, dan membacalah maka anda akan melihat dunia...

READ

......
Template Oleh trikmudahseo