Selamat membaca

semoga bermanfaat

WIDGET

Label

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followerku

BlogRoll

Blogger news

Bahagia itu nikmat, senikmat kopi dengan moka putih.

Sudah Adakah Judul Skripsimu?


“Memilih judul”, kata pak Jemma, Dosen Penelitian kami.

“Kalian sekarang sudah semester 5, sudah bisa menyetor judul jika sudah punya. Jangan sampai terlambat.” Lanjutnya lagi.

Salah satu contoh judul skripsi yang selalu teringat di benak saya adalah “Pengaruh Metode Cabut Gigi dalam Penguasaan Kosakata Siswa”. Contoh ini yang selalu membuat tawa di kelas kami. Menurutnya, metode cabut gigi adalah cara dimana dalam proses pembelajaran, siswa akan diberikan hukuman (dicabut giginya) jika tidak mampu menghafal/menguasai kosakata yang telah ditentukan. Wah, berbahaya bukan? Hahaha. Dengan demikian siswa akan memaksakan dirinya untuk menghafal. Bagaimana hasilnya? Belum diketahui… Ini hanya merupakan contoh saja. Mungkin jika ingin dilakukan maka harus dipertimbangkan sematang-matangnya, karena jika siswa melanggar metode ini, maka keesokan harinya sekolah akan dipenuhi oleh para orang tua siswa dengan golok terhunus di tangan. Begitu asumsinya. Ataukah kebanyakan siswa di sekolah itu menjadi ompong di masa muda. Lucu bukan? Tapi mengerikan.

Memilih Judul. Lho kok memilih judul? Bukannya mencari judul. Menurut pak Jemma bahwa dalam penelitian kita akan meneliti sebuah masalah, itulah yang menjadi cikal bakal judul kita. Masalah dalam kehidupan ini begitu banyak, sehingga dikatakan bahwa kita akan memilihnya. Namun yang dimaksudkan disini adalah masalah yang berkaitan dengan studi kita. Misalnya kita masuk dalam ranah bahasa inggris, maka masalah kita haruslah berkaitan dengan bahasa inggris. Dalam penelitian nantinya akan disuguhkan beberapa metode, ada metode deskriptif, historis, korelasi, komparatif, dan eksperimen. Kitalah yang akan memilih satu diantaranya.

Sekarang kita telah berada di semester 5, beberapa bulan lagi kita akan menjalani final test, setelah itu tentunya kita akan memasuki semester 6, kemudian semester 7. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Lantas apakah yang perlu kita lakukan? Pertanyaan apakah yang sepantasnya terlontar untuk diri kita masing-masing? Mungkin ini dia, “Apakah kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagi penyelesaian studi kita nanti? Apakah kita sudah siap untuk terjun langsung ke masyarakat dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan?” Satu pertanyaan yang penting untuk kita sekarang adalah “Apakah kita telah mempersiapkan judul skripsi kita?”. Pertanyaan inilah yang selalu muncul pada teman-temanku, dan tentunya padaku juga. Apalagi ketika kami disuguhkan mata kuliah penelitian. Semua pikiran mengambang, menghayalkan judul skripsi yang akan dimasukkannya nanti. “Jika kaliah sudah punya judul sekarang, silahkan ajukan ke ibu Inah.” Begitu kata pak Jemma.

So, kapan kita memilih judul? Ya dari sekarang lah… Hehehe. Katanya judul itu bisa diperoleh kapan saja dan dimana saja. Bisa di WC ketika kita buang air (wah, jorok amat), ketika sedang makan, ataupun ketika kita sedang melakukan aktifitas-aktifitas lainnya. Untuk mempermudah dalam menemukan judul maka kita seharusnya memperbanyak membaca, mengikuti seminar-seminar, diskusi atau workshop, dan lain-lain. Dalam penelitian, itulah yang dinamakan sumber-sumber masalah. Oleh karena itu, mulai dari sekarang tancapkanlah dalam benak kita bahwa kita akan memilih dan mempersiapkan judul kita. Tidak apalah kita mempersiapkan begitu banyak judul karena mungkin judul kita yang pertama belum diterima, maka kita bisa mencoba judul kita yang lainnya. Kita juga dapat membantu teman kita yang belum mempunyai judul. So, let’s do it. Salah satu kata motivasi dalam buku “Retorika Kaum Bijak” berbunyi, “Don’t just stand there, but do something.”

Contoh Biografi dalam Bahasa Inggris


Abdi Masbara Lumbon. He was born on August, 17th 1992 in Okumel, Banggai, Central Sulawesi. He is the last son from Abdul Rahim Lumbon and Sabarni Yaliso. He started his study when he was five years old in 1st Okumel Elementary School (SDN 1 Okumel) in his village. He was graduated in 2003 and he continued his study in 3rd Liang Junior High School (SMPN 3 Liang).

In 2006 he continued his study in 2nd Luwuk Senior High School (SMAN 2 Luwuk) in the city of Luwuk Banggai. At that time, he was always active in an Internal Organisation in his school, called OSIS. He finished his study in 2009 and he continued again for his first degree (S1) in State Islamic University of Makassar, in South Sulawesi. He took English Education Department on Tarbiyah and Teaching Faculty. Now, he is in fifth semester.

He has been joining some organizations since he was in first semester. He ever got First Winner on “Elementary School Writing Competition” in 1999. He also got 1st Winner with his friends for “Vocal Group Competition”in PORSENI Banggai in 2008. In 2009 he got Third Winner on “Singing Competition” in the ceremony of his campus’s anniversary. At that time, he was also a member of “Paduan Suara Universitas” which is performed in a Graduation Ceremony.

Example of Descriptive Paragraph

My campus is beautiful. It has many new buildings. Every room of the building has new equipment for studying. there are some green trees between the buildings. In the middle of our campus there is "Air Mancur". Many people want to take rest and relax there. These all make the scenery become interesting and comfortable to be seen.

SAKIT?


Kehidupan ini memang sering kali menyakitkan. Sakit yang dominan kita dapatkan adalah sakit yang berhubungan dengan hati atau batin kita, selebihnya itu adalah sakit pada fisik atau jasmani kita.

Sakit pada hati akan sulit didapatkan penawarnya ketimbang sakit pada fisik. Sakit pada hati ataupun batin,akan terasa lebih sakit, sehingganya muncul lirik sebuah lagu, “kalau terbakar api, kalau tertusuk duri mungkin masih dapat ku tahan tapi ini sakit lebih sakit, kecewa karena cinta”. Begitu? Ada-ada saja tingkah laku manusia.

Tapi memang, persoalan cinta merupakan sumber sakit hati pertama. Banyak orang yang menderita karena putus cinta, ada yang sampai gila, bahwa ada yang nekat bunuh diri ataupun membunuh orang lain. So crazy… Namun itulah yang dinamakan sakit, sakit hati.

Itu karena putus cinta, bagaimanakah dengan cinta yang ditolak? Bagaimanakah sakitnya? Aku tidak tahu. Masing-masing orang mempunyai daya rasa yang berbeda-beda. Ada yang merasakan sakit sekali, adapula yang menganggapnya bahwa itu adalah hal biasa dan mengatakan pada dirinya “Oh, tidak apa lah, ini bukan keberuntunganku, masih banyak cewek/cowok lain disana yang menungguku, yang masih single”…hahaha. Sekalipun berkata seperti demikian, terlihat sabar dan tabah, namun dapat ditebak bahwa orang ini setidaknya merasakan sakit juga namun hanyak sedikit.

Ada pula orang yang menjadi marah karena putus cinta, hingga mereka menggunakan other way atau jalan pintas. Seperti kata-kata yang selalu kita dengar, “Cinta ditolak, mbah dukun bertindak”. Sungguh tidak jantan yang demikian. Tapi begitulah, kebiasaan yang telah membudaya di bumi kita, bahkan di bumi orang lain juga, seperti di Thailand, dan daerah-daerah Asia lainnya. Santet-santetan masih tetap survive di dunia ini, selagi sakit hati masih tetap ada, selagi agama tidak lagi terserap dengan baik dalam hati sanubari manusia.

Berkaitan dengan sakit hati karena cinta, ada satu hal yang sangat tidak aku suka yaitu tentang kejujuran. Apakah yang anda rasakan jika ada seorang cewek menolak atau tidak menyukai anda namun ia tidak mengungkapkannya, hanyalah beribu alasan yang keluar dari mulutnya (bukan alasan untuk menolak, tapi sejenis alasan-alasan yang tidak masuk akal). Sungguh sebuah ketidakjujuran. Bagaimanakah jika anda tidak dapat menebak bahwa dia tidak menyukai anda? Cobalah anda pikirkan.

Begitu banyak sumber-sumber penyebab sakit hati : kecewa, putus cinta, dikhianati, cinta ditolak, iri pada orang lain, dan lain-lain. Semuanya begitu sakit. Kata “sakit” memang tidak pernah berubah maknanya, sakit tetap sakit. Kehidupan memang seringkali menyakitkan bagi siapa saja. Hanya kitalah masing-masing akan yang mencari dan menentukan penawar ataupun jalan keluarnya.

Okumel ; Kini dan Mendatang


Okumel adalah sebuah desa yang bisa dikatakan cukup makmur, yang terletak di Liang bagian selatan. Desa ini juga merupakan desa yang berkembang beberapa tahun terakhir ini. Tanda-tanda perkembangan desa ini sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak berdirinya Pasar Okumel. Pasar merupakan hal yang vital bagi masyarakat dalam suatu daerah dalam rangka menumbuh-kembangkan perekonomiannya. Di dalam pasar terdapat proses jual beli antar masyarakat baik masyarakat yang tinggal di daerah tersebut maupun masyarakat dari daerah lain yang datang berbelanja atau berdagang. Dengan adanya Pasar Okumel, transaksi-transaksi ataupun pertukaran hal-hal baru mulai tumbuh. Inilah yang menjadi tonggak awal perkembangan Desa Okumel, desa yang menjadi tempat lahir saya, yang saya cintai.
Mengapa bernama Okumel? Saya juga tidak tahu mengapa demikian. Bukannya saya buta akan sejarah desa sendiri, namun kejelasan dari cerita masyarak tentang sejarah Okumel belum saya dapat secara pasti. Tidak ada data-data yang dapat dijadikan referensi terbaik untuk digunakan. Cerita-cerita yang didapat dari orang-orang tua merupakan hal yang begitu penting namun ada berbagai versi yang berbeda-beda dalam cerita sejarah Okumel. Inilah yang memberatkan hati saya untuk menulis atau sekedar mengungkapkan sejarah Okumel itu sendiri. Jika saya mengatakan ceritanya seperti begini, dan ternyata yang sebetulnya adalah begitu, maka saya dapat dikatakan sebagai orang yang Ba soosoki, ini merupakan istilah orang-orang daerah sini, yang menyatakan bahwa saya bertindak sembarangan dalam melakukan sesuatu. Tapi setidaknya sedikit saya beberkan cerita tentang Okumel yang saya dapatkan orang-orang. Ceritanya kurang lebih seperti berikut. Dikisahkan bahwa pada jaman dahulu ada sebuah pohon yang tumbuh di dusun Dambelas. Pohon ini bisa dikatakan cukup unik (kesimpulan dari pemahaman saya). Daun dari pohon tersebut berasa dingin atau Kumel, dalam bahasa Banggai. Di bawah pohon ini mengalir sungai dari mata air dan terus ke laut. Sifat dingin (kumel) dari pohon inilah yang menjadi cikal bakal penamaan daerah yang dulunya masih berupa hutan lebat ini, Okumel. Lho kenapa masih ada satu huruf yang tertinggal? Ya, masih ada huruf “O”, O-kumel. Dari cerita yang saya dengar, huruf “O” belum begitu pasti dari mana asal mulanya. Bisa dikatakan bahwa ini mungkin merupakan istilah-istilah orang pada jaman dahulu. Toh Bahasa mempunyai banyak macam istilah-istilah tambahan ataupun logat. Ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa huruf “O” tersebut berasal dari pengucapan orang Belanda (Dikatakan bahwa orang Belanda ketika berdialog dengan kaum pribumi, selalu terbata-bata dan selalu mendahului sebuah kata dengan huruf “O”). Huruf “O” pada pengucapan orang Belanda ditambah kata kumel menjadi “O-kumel”. Cerita ini belum begitu pasti, mengingat orang-orang tua kita ketika bercerita, mereka sering menggabungkan cerita asli dengan dongeng, sehingga sulit dipastikan kebenaran cerita itu.
Okumel merupakan desa yang berbatu-batu. Jika anda menengok ke arah kiri, maka anda akan melihat bukit yang berbatu-batu. Tengok ke kanan maka anda akan tanah berbatu-batu, begitu pula jika anda melihat ke depan dan belakang. Memang benar potongan liriks suatu lagu yang mengatakan “Okumel lipu batuon, Okumel na monondokan”, artinya Okumel merupakan daerah yang berbatu namun bagus. Tapi perlu diketahui, Okumel tidak sebegitu berbatu seperti yang saya ilustrasikan di atas, tengok ke kiri, kanan, depan dan belakang berbatu. Sungguh tidak demikian. Saya mengatakan seperti diatas karena rasa iba saya terhadap Okumel, rasa perduli,dimana Okumel sangat susah dalam pembangunan wilayah. Alasannya ya karena Okumel dipenuhi bukit-bukit berbatu. Jika pembangunan wilayah dilaksanakan, maka perlu alat-alat berat yang sudah mumpuni dan para arsitek-arsitek yang mampu menyulap daerah yang sedemikian rupa menjadi daerah yang indah, setidaknya menjadi daerah yang rata. Suatu waktu ketika saya sedang menghayal tentang negeri saya ini, kadang-kadang saya menginginkan adanya penimbunan daerah lautan di depan pasar Okumel (teluk Okumel) menjadi daratan sehingga dapat digunakan sebagai lahan dalam perluasan pasar Okumel. Pelabuhan okumel akan dibangun di depan Tanjung Okumel, sedikit ke depan dusun Bajo, karena disana mungkin ada perairan yang sedikit dalam sehingga cocok untuk kapal-kapal besar berlabuh. Ini semua untuk perkembangan desa Okumel. Namun ini hanya khayalan saya saja, masih dalam mimpi. Kadang-kadang saya berharap ini bisa terwujudkan. Oleh karena itu sangat dibutuhkan perwujudan, butuh tindakan.Sebuah kalimat bijak mengatakan “Don’t just stand there, do something”, maksudnya jangan cuma diam tapi lakukanlah sesuatu. Kita akan melihat hasilnya jika kita mengerjakannya, mewujudkannya, bukan cuma dengan kata-kata.
Perubahan yang begitu signifikan sudah menghiasi hati seluruh masyarakat Okumel beberapa tahun terakhir ini, pembangunan TK (Taman Kanak-kanak) Okumel pada 2010, hingga berdirinya SMA swasta di tahun ini. Menurut saya, ini merupakan suatu perubahan yang perlu dibanggakan. Sangat jarang daerah-daerah lain mampu melakukan ini, mampu membangun SMA
bersambung....

Sepenggal Kata

Menulislah, maka anda akan meraba dunia, dan membacalah maka anda akan melihat dunia...

READ

......
Template Oleh trikmudahseo